Hans zimer

Free Music Sites
Free Music Online

free music at soundcloud

Senin, 04 Mei 2026

Ketunggalan Khalq

Tuhan bersifat tunggal, dikarenakan jika tuhan bersifat jamak meskipun kedua-Nya, ketiga-Nya, atau keberapapun, mereka takkan menjadi ilahiah  walau dalam kemajemukan-Nya mereka sama dan unggul. Ini dikarenakan, jika Tuhan berbilang maka eksistensi-Nya dapat terwakili oleh Tuhan yang lain. Namun jika Ia hanya berjumlah satu maka sudah tak ada lagi yang dapat mewakili-Nya. Kita andaikan Tuhan berjumlah lima dan sama-sama memiliki keunggulan yang sama. Jika salah satu dari kelima Tuhan tersebut absen dan tak hadir, meski itu tidak mungkin dikarenakan Ia selalu ada, atau mungkin malah keberbilangan membuka kemungkinan lain, maka kealfaan-Nya dapat terwakili oleh Tuhan yang lain. Dan kita telah memiliki Tuhan yang berjumlah empat jika salah satunya memilih untuk tak hadir. Selanjutnya kita andaikan lagi pada Tuhan yang berjumlah empat yang mana salah satu-Nya mengambil keputusan kembali untuk alfa dalam realitas sehingga kita hanya memiliki tiga, selanjutnya dua, hingga sampai pada yang satu. Jika Tuhan yang satu ini memilih untuk ikut alfa dalam realitas pula, maka ketidak hadiran-Nya sudah tak dapat lagi untuk diwakili dan pengelolaan makhluk akan lenyap dan realitas akan kehilangan pengelolaan dan keseimbangannya. Jika benar bahwa Tuhan bersifat jamak, tentunya mereka akan saling membantu dan menerima bantuan dari sesama-Nya dalam pengelolaan makhluk-Nya. Pertanyaannya, apakah anda mau menyembah Tuhan yang dibantu bahkan oleh sesama-Nya?
Tuhan tidak memerlukan wakil dalam menjalankan kepemimpinan dan kerajaan-Nya, dikarenakan Ia selalu ada, yang menjadikan Ia satu-satu-Nya yang diutamakan oleh para ciptaan-Nya. Namun perlu diketahui pula bahwa tak ada yang mustahil bagi-Nya, termasuk lenyap dalam realitas tanpa bukti dan jejak sekalipun. Penulis berusaha mengabarkan bahwa tak ada yang mustahil bagi-Nya yang selanjutnya mungkin akan memandu para pembaca menuju kajian dangkal yang tak perlu dianggap serius. Namun terdapat pertanyaan musykil yang menarik untuk penulis ulas sedalam mungkin secara substasial, seperti; "mengapa khalq hanya berbilang satu dalam penalaran katafatik? Mengapa Ia tidak berjumlah dengan keunggulan yang sama, sama-sama sanggup dan sama-sama mampu, sama-sama qadim dan sama-sama bersifat azali, sama-sama selalu ada dan tak rapuh? Apa yang menjadikan khalq bersifat tunggal?". Khalq dapat dikatakan tidaklah membutuhkan bilangan meski keberbilangan khalq memungkinkan ada-Nya secara visual karena hadirnya konsep ini, dan tak ada yang mustahil bagi-Nya untuk mengada dalam keterbagian-Nya. Namun jika kita mengatakan "apa pun mungkin bagi-Nya", maka dengan media apa yang memungkinkan makhluk mengetahui dan memastikan ke-Ia-an-Nya? Nalar tentu akan menemui kekurang universalan logika seperti penulis saat ini jika berusaha mengabstraksi wujud yang lebih dari satu. Lalu jika makhluk menggunakan hati, tentu hati bukanlah media yang tepat untuk memastikan keberbilangan Al khalq. Sebab hati tak memiliki kapasitas kognisi untuk berfikir dan menetapkan secara rasional. Sedangkan panca indra ibarat tangan lumpuh yang tak memiliki daya untuk digunakan. Secara implisit, tulisan ini membongkar kekurang memadainya sistem katafatik melalui cara berfikirnya yang kering akan makna dan penjelasan. "Ia Tuhan, Ia dapat melakukan apa saja." Dengan keterangan seperti ini, apa lagi yang akan kita bicarakan tentang-Nya? Bisa jadi, keterangan seperti ini hanya upaya makhluk yang malas atau gagal menalar Tuhan. Padahal jika audiens mau membuka mata akan kompleksitasnya fenomenologi ketuhanan, ia kaya akan penjelasan rasional dan berusaha menembus batas-batas nalar sekaligus membuka tabir-tabir yang melingkupi seorang hamba akan pencipta-Nya, sekalipun dalam beberapa hal itu tidak mungkin, namun memiliki nilai progresif untuk diperhitungkan. Lalu apakah selanjutnya makhluk diharuskan untuk maju dan masuk ke ranah negative dalam menalar khalq? Ya! Selama itu membawa makhluk menuju kemajuan untuk kesadaran berketuhanan, lantas apa yang menghalangi pengkaji untuk tidak dan menolak mengambil pilihan ini?

Kamis, 12 Maret 2026

Komentar Untuk Aristoteles Dan Herakleitus

Aristoteles
Dalam filsafat Yunani klasik kita mengenal Aristoteles beserta gagasannya yang mengatakan "sesuatu dapat bergerak dikarenakan ada yang menggerakkannya. Dan yang menggerakkannya pun digerakkan oleh penggerak yang lain. Begitulah seterusnya pergerakkan bergerak hingga mencapai pada penggerak yang tidak bergerak dan tidak digerakkan oleh apapun. Itulah Nous." Dalam benak Aristoteles, "Nous haruslah tidak bergerak yang menyebabkan-Nya tidak bertambah atau berkurang, dan pula bahwa Nous tidaklah terikat oleh waktu yang berusaha mengukur-Nya seperti sejak kapan? Sedang apa? Dan sampai di mana?" Konsep ini sempat diadopsi oleh Abu Abbas Al Aqqad dalam karyanya yang berjudul "Allah", yang mana di Indonesia karya ini berjudul "Tuhan Di Segala Zaman". Penulis menemukan dalam sub bab awalnya bahwa Aqqad berargumen "Tuhan dapat merubah tetapi tidak dapat berubah". " Tidak dapat" Dalam konsep ini bukanlah sifat wajib bagi Nous. Meskipun ada penjelasan lain bahwa Ia memang "tidak dapat". Konsep ini pula merupakan kalimat lain dari kalimat Aristoteles namun bermakna sama. Penulis komentar ini menemukan bahwa konsep ini perlu dikoreksi, karena nalar yang menjadi alat mereka untuk mengabstraksi Nous berkontradiksi kontras dari penjelasan wahyu akan pengelolaan makhluk oleh khalq-Nya di alam dunia mau pun akhirat. Akan lebih masuk akal dan lebih koheren jika logikanya berbunyi seperti ini: "Nous dapat merubah dan dapat berubah menjadi merubah, dikarenakan Nous mampu, baik mengentifikasikan-Nya maupun mengabsolutkan-Nya."

Herakleitus
Kita mengenal Herakleitus sebagai filsuf era klasik ketika filsafat masih dikaji bukan hanya untuk menemukan pelajaran, melainkan pula untuk mencapai kebijaksanaan tertinggi dan meniru Nous paling tidak untuk sekedar berfikir. Tujuan Herakleitus berfikir adalah untuk mencapai kebijaksanaan, bukan untuk melebih-lebihkan terlebih melenggang pongah karena bangga menjadi yang pertama dan mengelitkan atau mengeklusifkan apa yang sebenarnya sederhana. Dia benar jika sesuatu tidak akan sama untuk kedua kalinya. Namun bukan berarti pandangan ini menjadikan individu atau masyarakat berlomba-lomba untuk mendapatkan atau menjadi yang pertama. Herakleitus memiliki otak, sedangkan Tuhan memiliki takdir. Jika Herakleitus ditakdirkan untuk menjadi yang ke dua, ke tiga, atau berapa pun, apakah ketidak menjadian yang pertama akan mengakhiri segalanya? Ingat, Bumi akan tetap bulat dengan anda menjadi yang pertama atau yang terakhir.

Sabtu, 22 Juni 2024

Sejarah Perkembangan Filsafat Islam

Sebagai awal dari tulisan ini mungkin tulisan ini akan kuberi judul "gonjang ganjing dan geliat filsafat dalam tubuh Islam". Namun sepertinya Tuhan berkata lain, karena aku baru saja menemukan judul yang tepat untuk tulisanku kali ini. Dari tulisan di atas, audiens mungkin dapat menebak hal apa yang akan kutulis. Kehadiran filsafat dalam tubuh keyakinan umat muslim memiliki dua sumber kedatangannya. Yang pertama, pendapat yang mengatakan bahwa kehadiran filsafat Islam berawal dari diskusi dan ijmak para fukaha awal (pada era kehidupan nabi SAW) dalam menentukan suatu hukum haram dan halalnya sesuatu. Jadi dalam pendapat ini filsafat bukanlah hal bid'ah yang hadir dalam Islam, melainkan suatu praktik yang lahir berbarengan dengan kebutuhan umat akan suatu hukum halal atau haramnya sesuatu, yakni ilmu fikih. Sebab dalam kenyataannya para fukaha pun menerapkan metode metode berfilsafat untuk menentukan hukum, seperti Qiyas, berdiskusi, atau pun berdemonstratif. Bahkan nabi SAW pun terkadang berfilsafat untuk menetapkan suatu hukum. Pendapat ini sangat kontras terkesan kabur dan lari dari tuduhan bid'ah yang mengancam eksistensi filsafat, akan tetapi sangat masuk akal untuk dicerna dan dipahami. Pendapat selanjutnya ialah pendapat yang mengatakan bahwa filsafat Islam berawal dari penerjemahan besar besaran yang diperintahkan langsung oleh khalifah Abbasiah kala itu, Al Makmun, terhadap karya tulis filsafat Yunani dan Persia. Di sinilah umat muslim mulai tersentuh dan terhelenisasi secara terlambat jika helenisasi dirujuk dari zaman Alexander Agung. Dan pendapat inilah yang mengatakan secara langsung bahwa filsafat merupakan bidang keilmuan yang bid'ah, meskipun ada penjelasan tersendiri seputar bid'ah tersebut. Dalam perjalanannya, filsafat islam mendapatkan tantangan berupa hujjah dari seorang yang memenangkan sayembara untuk menekan dan mengendalikan pertumbuhan filsafat, karena pada saat itu pemikiran filsafat bergerak liar, bahkan menyerang doktrin doktrin pokok umat muslim seperti Al Qur'an dan hadits. Tersebutlah Abu Hamid Al Ghazali yang berdiri kokoh menyongsong para filsuf muslim yang menyimpang dari akidah. Ia mendapatkan kemasyuran karena dianggap berhasil menekan pertumbuhan filsafat kala itu dengan kitab hujjahnya yang berjudul "Tahafut Al Falasifah". Meskipun yang ia hujjah hanya pada ranah metafisikanya, bukan pada ranah filsafat secara keseluruhan. Oleh sebab itulah Ibn Rusyd tampil ke permukaan untuk membela filsafat dalam karyanya "Tahafut At Tahafut". Namun, pasca serangan ofensif yang gencar dilakukan oleh imam Ghazali, filsafat Islam lantas tidak surut begitu saja, meskipun banyak yang menganggap bahwa pasca hujjah yang dilakukan Ghazali filsafat Islam mengalami kemunduran. Hal itu tidaklah benar demikian. Kita masih bisa mengenal filsuf filsuf besar umat muslim yang muncul pasca hujjahnya imam Ghazali, seperti Suhrawardi, Mulla Sadra, Seyyed Hossein Nasr, dan Hasan Hanafi sebagai filsuf Islam kontemporer. Akan tetapi filsafat Islam mulai berubah dan mengambil bentuk yang tidak seperti sebelumnya lagi, dimana nalar menjadi pijakan utamanya, melainkan menggabungkan antara ajaran irfani dan burhani. Jadi, pasca hujjah yang dilakukan oleh Ghazali filsafat Islam sudah tidak murni bersifat rasional, melainkan dipadukan dengan pengetahuan intuitif nan mistik. Timbul pertanyaan dalam benak kami, jika filsafat dan sufisme berpadu hingga menjadi satu kesatuan yang utuh maka apakah gabungan kedua epistemologi ini akan melahirkan bidang kajian baru?

Senin, 20 Mei 2024

Metafisika

Dewasa ini, dengan kecanggihan berfikir dan mudahnya pengetahuan untuk diakses hingga pengerukkan total yang tak ada habisnya atas pengetahuan. Sudah sejak lama kita meyakini adanya ada ada yang tak dapat dicerap dan diindra dengan alat alat empirik. Ini menandakan adanya ada yang melampaui ada ada fisik yang penjelasan dan deskripsinya tak dapat dijawab dan dijelaskan dengan metode metode laboraturium atau pun pengolahan data dari studi arkeologis, atau pun observasi. Ada yang dimaksud di sini sangatlah unik jika seorang agen masih baru baru mengkaji bidang keilmuan yang dianggap mampu menjelaskan sekaligus berdiri di atas makhluk makhluk fisik yang kita definisikan dengan pengetahuan metafisika. Pengetahuan ini memang sejak awal selalu setia mengisi kekosongan yang tidak dapat dijawab oleh penelitian indrawi. Kita dapat meneliti makhluk makhluk mikroskopik, kita dapat menentukan usia sebuah guci kuno dengan studi kadar karbon, kita bisa merubah logam menjadi emas jika mitos yang digembor gemborkan itu benar, kita bisa mengamati kebiasaan kebiasaan satwa satwa liar untuk menghasilkan pengetahuan baru tentangnya, namun apakah kita mampu menjelaskan dan mendemonstrasikan ada yang tak dapat dilihat, disentuh, dihirup, atau pun dirasa dengan indra pengecapan, atau dengan indra indra lainnya yang jika memang memungkinkan dan diperlukan? Perlu audiens ketahui dalam pembahasan ini, bahwa ada bukan hanya sebatas pada wujud fisik yang dapat kita cerap dengan alat alat panca indra yang dapat kita alami kapan saja dan di mana saja, melainkan ada pula hal hal yang tak dapat kita cerap dengan alat alat empirik, seperti waktu, ruang, atau pun ide. Waktu, ruang atau pun ide tidak dapat kita sentuh, kita lihat, atau pun kita dengar, namun semua orang tahu bahwa ia ada. Kita hanya bisa mencerap manifestasinya (perwujudannya) dengan alat alat empirik kita. Kita dapat menyentuh jam dinding yang merupakan manifestasi dari waktu. Kita bisa menyentuh dinding atau tepi gelas yang merupakan batas batas dari ruang. Kita bisa menggenggam buku yang merupakan perwujudan dari ide. Akan tetapi kita tidak bisa mecerap dengan sensibilitas kita akan substansi dari ke tiga hal tersebut. Itulah sebabnya siapa pun tidak bisa menggenggam sebuah pemikiran. Kau tidak bisa melihat atau pun menciumnya. Sebab ia bukanlah ranah bagi pengetahuan empiris, melainkan wujud wujud yang ada dalam kajian metafisika, yakni penyelidikan setelah dan melampaui alam alam fisik.

Rabu, 08 Mei 2024

Meruntuhkan Atheisme

Sejauh yang kami tahu tentang paham atheis ialah rancunya metode yang mereka gunakan dalam menginterpretasikan objek yang mereka bidik dan mereka kaji. Mereka menggunakan metode empirik untuk menafsirkan wujud metafisis. Menggunakan mikroskop untuk meneliti jin dan iblis. Ini omong kosong! Mereka menggunakan sains untuk meneliti Tuhan, padahal objek yang sedang kita bahas merupakan wujud metafisik yang melampaui fisik dan tak berjisim. Ada fakta dari kenyataan yang mengecewakan untuk para pengkaji sains yang harus mereka terima dengan lapang dada, yakni; Tuhan dan sains takkan pernah dapat berdamai dan mengerucut ke satu titik, di mana sains berusaha menjelaskan Tuhan dengan bukti bukti ilmiah. Karena Tuhan pun memiliki sisi transenden yang tak dapat kita validasi dengan bukti ilmiah. Karena sifat khas dari fakultas keilmuan metafisika ini bersifat spekulatif. Meskipun begitu, argumen tentang keberadaan Tuhan sangatlah meyakinkan dan sulit walau hanya untuk sekedar meragukan dan meruntuhkan konsep konsepnya yang koheren dengan scripture dan nalar ini. Hingga sampai suatu saat kebenaran akan konsep dan rekonstruksi ketuhanan dapat tervalidasi di yaumul akhir. Namun Tuhan dapat berdamai dengan pengetahuan yang bersifat apriori. Karena pengetahuan ini menganggap dan menempatkan Tuhan sesuai dengan tempat yang seharusnya untuk diselidiki, yakni dengan metode metafisik. Seluas apa pun wujud Tuhan, tetaplah makhluk dikaruniai daya intelek untuk mengetahuinya dan mengikatnya dengan kaidah kaidah berfikir dan hukum hukum yang makhluk miliki, sebagai dampak dari tajalinya. Meskipun pengetahuan yang makhluk miliki sangat sedikit tentang Tuhan. Bahkan saking sedikitnya dapat dikatakan bahwa makhluk tidak memiliki pengetahuan apa pun tentang Tuhan. Pertanyaan seputar "mengapa Tuhan memilih menjadi gaib dan tak terlihat?", "mengapa Tuhan terkadang bersifat tak adil dalam realitas?", dan "mengapa harus ada ketimpangan sosial di lingkungan masyarakat?", itu semua merupakan pertanyaan pertanyaan yang tak memiliki bobot metafisis yang tak perlu dijawab atau pun digubris dan dipusingkan, karena setiap pertanyaan akan selalu ada dalam kenyataan dan tak pernah dapat dibendung oleh nalar siapa pun, dan pertanyaan pun tak pernah ada habisnya. Dan itu adalah wajar. Setidaknya begitulah yang dikatakan Imanuel Kant dalam karyanya yang berjudul "Critique of pure reason" Seperti yang Aristoteles katakan, bahwa "Tuhan tidak mungkin memikirkan hal hal yang remeh. Ia hanya memikirkan hal hal yang penting, sementara yang terpenting dalam realitas adalah diri-Nya sendiri. Itu berarti Tuhan Adalah akal yang memikirkan diri-Nya sendiri." Sikap seperti inilah yang seharusnya ditiru oleh para pengkaji burhani. Meskipun Tuhan Aristoteles tersebut menyimpang dari ajaran Islam.

Minggu, 15 Oktober 2023

Abiogenesis

Tulisan ini adalah sedikit pengantar untuk menemanimu tidur. Mulanya hanya ada benda benda mati yang dimiliki oleh bumi seperti tanah, air, api (panas matahari), dan udara (oksigen). Dengan keempat benda mati tersebut atau yang lebih akrab kita sebut dengan keempat elemen dasar, terciptalah makhluk makhluk hidup. Dimulai dari makhluk makhluk yang sederhana seperti, bakteri, mikroba, dan makhluk makhluk mikroskopik yang tercipta secara spontan dari keempat elemen dasar tersebut. Lalu dari makhluk makhluk mikroskopik tersebut berevolusilah mereka menjadi makhluk makhluk dengan wujud yang lebih kompleks dan dengan ukuran yang semakin membesar. Evolusi adalah kata kunci untuk tulisan ini, di mana eksistensinya takkan terbantahkan baik dengan kreasionism maupun dari dalil dalil mentah yang dilontarkan oleh tokoh tokoh agamis, yang mengklaim bahwa biogenesislah yang seharusnya memiliki tempat di hati semua orang, dengan mengatakan bahwa kehidupan berawal dari sesuatu yang hidup, yakni Adam dan Hawa. Ya, tak dapat dipungkiri, Adam dan Hawa memang benar benar ada, dikarenakan yang mengatakannya adalah sesuatu yang tak pernah melakukan sebuah kesalahan, yakni Allah. Akan tetapi, fakta lapangan mengatakan hal yang lain dari apa yang dikatakan oleh sang logos tersebut. Jika kita cermati, tampaknya ada sedikit teka teki yang disodorkan dari sang intelek pertama kepada makhluk yang telah dapat berfikir dan memiliki akal. Dalam ayat Al Qur'an QS Al Anbiya:30, dan QS An Nur:45, dikatakan bahwa makhluk hidup tercipta dari air. Ada pun QS As Sajdah:7, dan QS Al Hijr:26 dimana dalam kedua ayat tersebut dikatakan bahwa manusia tercipta dari tanah atau lumpur. Di sini, Allah berusaha memberi sedikit petunjuk kepada manusia tetang dari mana mereka berasal. Dan keempat ayat tersebut pun dapat audiens ketahui sejalan dengan konsep abiogenesis yang mengatakan bahwa kehidupan berasal dari materi materi mati, di mana Allah memberi petunjuk tentang dari mana makhluk berasal sebanyak 50%, yakni dari tanah dan air yang menciptakan lumpur yang membawa kehidupan. Dan 50%nya lagi dilengkapi oleh akal manusia dengen menambahkan dua elemen selanjutnya, yakni elemen api (panas matahari), dan udara (oksigen) sehingga terselenggaralah kehidupan primordial yang terus berevolusi. Dan petunjuk ini diberikan berabad abad lalu sebelum ditemukan dan digunakannyanya instrumen instrumen modern seperti mikroskop dan metode observasi. Ini mengagumkan! Dan, untuk membuktikan teori evolusi, audiens dapat mengamati perkembangan sebuah virus, dimana ia akan berubah wujud dan semakin ganas jika kita tidak sigap dalam menanggulanginya. Ada pun rumput liar dan semak semak. Semua orang tahu bahwa tak ada seorang pun atau siapa pun atau apa pun yang sengaja atau membawa benihnya ke tanah lapang, namun mengapa ia bisa hidup? Dan contoh yang terakhir datang dari sebuah selokan. Seperti sebelumnya, tak ada yang sengaja membuang atau menaruh telur telur ikan cere, ikan sepat, cupang sawah, atau pun yuyu. Tapi kita semua tahu bahwa mereka ada di dalam selokan. Dari mana mereka semua berasal kalau bukan dari bakteri biotik yang bergerak berevolusi. Namun, Al Qur'an tidak sendirian dalam mengatakan tentang konsep abiogenesis. Jauh sebelum ayat pertama Al Qur'an diturunkan, konsep evolusi telah digagas oleh herakleitus yang berusaha mengatakan bahwa hakikat realitas adalah "menjadi" (gerak). Pandangannya mensiratkan akan gerak maju sebuah realitas, terutama makhluk, dari yang sederhana menjadi makhluk makhluk yang lebih kompleks. Ia tidak mengatakan secara langsung tentang evolusi, namun idenya mensiratkan dan menginspirasikan akan hal tersebut. Selain itu ada pula Demokritus, yang berargumen, "bahwa setiap materi tersusun dari atom atom yang tidak dapat dibagi lagi. Atom, layaknya permainan lego dimana sekumpulan balok dapat membentuk wujud wujud lain yang lebih kompleks. Satu balok sangat berarti bagi balok lainnya. Begitulah seterusnya". Jadi, setiap materi baik yang hidup atau pun yang mati tersusun dari atom atom yang tidak dapat dibagi lagi. Sebenarnya, yang dimaksud oleh Demokritus bukanlah atom, sebab atom pun masih dapat dibagi lagi. Yang sebenarnya ia maksud adalah proton, elektron, dan neutron, sebab mereka bertiga adalah partilel terkecil yang tak dapat dibagi lagi. Pandangan Demokritus ini memperlihatkan ketajaman nalar yang luar biasa, melihat belum ditemukannya alat alat untuk mengamati makhluk makhluk mikroskopik namun hanya dengan bantuan intelek ia mampu memastikan bahwa materi hidup maupun mati tersusun dari partikel partikel yang tak dapat dibagi lagi. Dari sini dapat dipahami, bahwa wujud kompleks dari sebuah makhluk tersusun dan terkumpul dari partikel pertikel terkecil yang tidak dapat dibagi lagi, dan terus bergerak maju dalam evolusinya hingga mendapatkan wujud dan bentuk yang lebih unggul dari bentuk bentuk sebelumnya, maka lahirlah zaman jurasik, zaman kapak, zaman logam, hingga zaman modern seperti sekarang ini.

Creatio Ex Nihilo

Pada hakikatnya, alam semesta yang berisikan materi tidaklah bersifat qadim. Karena hakikat materi yang menjadi isi dari alam semesta adalah dapat tercipta dan dapat pula menjadi tiada, atau mendeterminasinya menjadi wujud lain. Seperti yang kita ketahui, bahwa segala yang ada pasti ada yang menyebabkannya ada. Sebagai contoh, kita dapat mengamati sebuah pohon yang memiliki kepadatan materi yang beragam. Mulanya ia berawal dari materi mati keempat elemen yang terus berevolusi hingga mendapatkan bentuk yang penuh menjadi sebuah pohon. Teori ini disebut dengan nama abiogenesis, teori yang mengatakan bahwa kehidupan dapat tercipta secara spontan dari keempat elemen dasar atau keempat benda benda mati. Baik, kita sudah mendapatkan titik awal dari sebuah materi yang kita amati, yakni sebuah pohon. Lalu, jika pohon dibakar sepenuhnya maka ia akan berubah menjadi hangus lalu menjadi abu, dari ada menjadi tiada, atau dari ada komplels menjadi ada primordial kembali, atau dapat disamakan dengan ketiadaan. Inilah yang menjadikan alam semesta tidak selalu ada, dapat hancur, hilang, atau lenyap sewaktu waktu. Sesuatu yang tidak selalu ada mustahil disebut Tuhan. Makhluk hidup jelas dapat berawal dan hidup spontan dari benda benda mati, lalu siapakah yang mengawali dan menciptakan benda benda mati tersebut? Ada dengan sendirinya sama saja dengan mengatakan bahwa materi dan alam semesta bersifat qadim, dan kita sudah mengetahui bahwa itu adalah mustahil. Jika kita mengatakan bahwa alam semsesta dan materi yang mengisinya ada secara kebetulan, maka konsep ini benar benar keluar dari rasio yang ada, yang menyebabkannya tidak masuk akal. Coba anda gambarkan dalam media dan alat alat anda tentang kekosongan sebuah ruang. Perhatikanlah, pada awalnya hanya ada ruang kosong tanpa ada atau diisi oleh apapun. Lalu bagaimana kebetulan sekonyong konyong menghadirkan meteri dalam ruang kosong tersebut yang melahirkan dan berevolusi menjadi materi materi lain yang mengisi ruang tersebut? Tak masuk akal bukan? Lalu, siapa yang menciptakan alam semesta beserta segala macam materi yang mengisinya? Karena alam semesta yang berisikan materi materi dapat tercipta dan dapat pula menjadi tiada, dapat disebabkan dan menyebabkan, ini mengindikasikan adanya sesuatu yang meng-ada-kan materi dan mengawali ke-ada-an yang lain. Dan itulah yang kita definisikan sebagai Tuhan, sang arsitek agung.

Legenda Holy Grail

Pada ayat ke 3 dalam surah Al – Ikhlas yang dapat kita artikan secara gamblang, mengatakan bahwa: Tuhan tidaklah beranak dan diperanakkan. Mungkin bagi para pengkaji Al – Qur’an, hafidz, atau pun mereka yang mendalami ilmu tafsir Al – Qur’an tidak menyadari bahwa ayat tersebut memiliki makna tersembunyi berupa relasi maut dengan legenda Eropa tentang kaum Merovingian. Ini dikarenakan wawasan yang mereka miliki hanya dari sisi islam dan kitab kitab fundamental saja tanpa ada kajian apapun tentang kitab kitab yang lebih sekuler pembahasannya, atau terbatasnya saluran informasi yang mereka miliki pula. Ayat tersebut seakan akan barusaha menyinggung, menyindir, dan mengatakan fakta yang sebenarnya seputar adanya sebuah agama yang menuhankan seorang nabi yang dianggap suci dari hadast dengan cara hidup selibat, yang ternyata tidak seperti yang dibayangkan oleh para penganut agama yang mereka kembangkan, yakni mereka yang menjalankan kehidupan selibat dengan meneladani Yesus yang fitrah dari pernikahan yang ternyata malah dikabarkan telah memperistri seorang yang dianggap pelacur bernama Maria Magdalena, dan telah memiliki keturunan yang dikenal dengan nama Merovingian, atau keturunan Davidic , sebelum kematiannya di tiang salib. Yang menarik, informasi yang disampaikan oleh pembawa berita gembira ini (Muhammad SAW) tidak menguasai ilmu baca dan tulis. Jika ayat ke tiga dari surah Al – Ikhlas ini terbukti benar, maka sebuah agama sekelas Nasrani akan tertampar keras oleh fakta yang tidak dapat mereka sembunyikan tersebut. Lebih mengejutkan lagi,dalam buku Da Vinci Code Decoded dan buku Holy Blood, Holy Grail, disebutkan pula bahwa Yesus belumlah mati di tiang salib dan masih hidup untuk beberapa tahun ke depannya. Legenda ini mengatakan bahwa Yesus yang sempat sekarat lalu dipulihkan, bermigrasi beserta istrinya ke sebuah kota di selatan Perancis yang bernama Marseille dan meninggal dengan tenang beserta keluarga dan para pengawalnya, yakni Pure De Sion dan Templar. Maria Magdalena yang oleh para biarawan Sion dan kesatria Templar diklaim sebagai Holy Grail, atau cawan yang menampung darah (mani) Yesus. Jika kita membicarakan Holy Grail maka ini akan merujuk kepada dua objek. Yang pertama merupakan objek benda yang merupakan sebuah cawan yang digunakan oleh Yesus pada perjamuan terakhir. Dan yang selanjutnya Holy Grail yang merujuk secara kiasan kepada seorang wadah yang menampung benih dari Yesus yang dianggap wafat dalam keadaan membujang, yang selanjutnya ditafsirkan dan dicontoh oleh gereja Katolik sebagai tritunggal suci yang sengaja mati di tiang salib untuk menebus dosa yang diwarisi oleh Adam karena memakan buah pengetahuan yang menyebabkan ia dapat mati karena memakannya di dalam surga, dengan menjalani kehidupan selibat dan berfokus untuk mewakili Tuhan di dunia. Maria Magdalena, yang menjadi focus pada pembahasan kita kali ini, disimbolkan dengan sebuah cawan (Grail) dan mawar. Itu sebabnya kita tak asing dengan istilah “Rose Mary” atau “Mawar Maria” yang merujuk kepada Maria Magdalena. Kisah cinta antara Yesus dengan Maria Magdalena dan janin dalam kandungannya berusaha ditutupi oleh gereja dengan membungkam orang orang yang dianggap mengancam stabilitas gereja dengan cara apapun, sehingga orang orang yang memiliki fakta tentang akta akta kelahiran dan kependudukan sipil pada abad pertama, di mana Yesus masih dalam genggaman kehidupan, mendapatkan kekuasaan dari gereja. Atas sebab ini pula, banyak raja raja Eropa mendapatkan kekuasaan politik karena memiliki keterkaitan dengan garis keturunan Yesus. Sebut saja Childerick, Clovis dan Dagobert di mana ketiganya dianggap memiliki silsilah dari darah Davidic dan Merovingian dalam dirinya, yang kepemimpinannya diamini oleh Vatican. Bukan hanya orang orang Merovingian, bahkan Sauniere, seorang pendeta katolik biasa yang bertugas di Rennes Le Cheteau, yang hidup dalam kemiskinan, mendadak kaya raya karena menemukan empat perkamen rahasia dalam gerejanya yang ketika itu akan direnofasi. Dua perkamen tersebut berisi silsilah dan dua lagi berisi petunjuk yang menuju ke arah sebuah makam kosong di luar Rennes Le Cheteau, lalu teka teki pada perkamen Sauniere pun berhenti sampai di situ.

Rabu, 23 Juni 2021

Metafisika Keadilan

Hadirnya kesadaran akan ada-Nya ada-pencipta menimbulkan kuiditas yang merupakan pintu pintu hikmah yang dapat kita nikmati melalui tulisan ini, yang diantaranya: Memberikan sifat sifat wajib dan sifat mustahil akan-Nya. Jika ada-ciptaan telah menemukan dan membuktikan ada-Nya ada-pencipta, maka tahap selanjutnya adalah menetapkan sifat sifat wajib dan mustahil akan eksistensi-Nya yang merupakan konsekuensi real akan keber-ada-an-Nya dan keber-ada-an apa pun dan siapa pun yang tampak pada fenomena realitas. Seorang ayah tidak mungkin membunuh anaknya yang masih kecil terutama tanpa sebab musabab yang jelas, dan ada-pencipta pun tidak mungkin menghukum siapa pun tanpa sebab musabab yang jelas pula. Kehadiran ada-pencipta mengisyaratkan ada-Nya beberapa sifat, karena realitas menuntut ada-Nya definisi. Seperti sifat wajib pada fenomena air, karena ia ada dan menjadi bagian dalam realitas maka ada-ciptaan dapat memberikan aksiden kepadanya, seperti; jika di sentuh maka instrumen kita akan menjadi basah, jika di wadahi dan wadahnya diangkat maka ia memiliki berat, jika air tersebut menempati ruang yang terbuka maka ia dapat membuatnya menjadi penuh jika volumenya cukup. Jika berada pada suhu yang dingin air tersebut dapat menjadi keras karena membeku. Jika mendapat panas berlebih maka ia akan mengering dan menghilang. Sementara sifat mustahilnya adalah; tidak memiliki instrumen yang cukup untuk melakukan tugas kemakhlukkan, air tentu tidak dapat mengelak jika ia direbus atau dipanaskan hingga mengering, karena ia merupakan hyle mati. Singkatnya, jika ada-pencipta telah terbukti sebagaimana ada-Nya, maka balasan akan setiap perbuatan pula pasti nyata dan benar ada-Nya, karena ada-pencipta merupakan bagian dari realitas maka Ia pun memiliki sifat, dan beberapa sifat-Nya antara lain; cinta dan kasih sayang yang maha luas (Arrahman, Arrahim) namun tetap adil dan tegas karena kuasa-Nya yang melahirkan sifat kehendak, bukan diam pasif maupun diam aktif. Karena sejak kapan diam-Nya ada-pencipta menjadi sebuah keunggulan? Kita tidak bisa menerima seorang pencuri berkeliaran bebas sementara kita hanya diam saja. Karena kasih sayang-Nya, Dia hadir bersama ada-ciptaan yang shaleh. Dia adalah perbendaharaan yang tersembunyi, jika ada-ciptaan ingin mengetahui-Nya maka ia harus memberdayakan instrumennya dan meneguk segala macam manis-Nya pengetahuan akan-Nya. Atau mungkin ada-pencipta memiliki kehendak lain dengan memperkenalkan diri-Nya tanpa melalui instrumen yang terlatih. maujud juga menerima bahwa ada-pencipta memiliki sifat tanpa batas (Ein Sof) . Karena sifat tersebut merupakan keunggulan yang wajib dimiliki oleh ada-pencipta yang adi-kodrati. Karena keber-ada-an-Nya yang merupakan tanpa batas, maka Ia meliputi segala-Nya, baik alam dunia maupun alam malakut, di surga maupun di neraka, di sini atau di situ, namun Ia bukanlah ini dan itu. karena kemanapun kau berpaling di sanalah terdapat wajah-Nya.

Selasa, 14 Januari 2020

Tiga Pintu Hikmah Dan Tanggapan Terhadap Atheisme


Baik, langsung saja. Dari pengamatan terhadap alam kita dapat membuka beberapa pintu hikmah yang tersembunyi yang dapat dibuka dengan akal, baik nalar maupun akal budi, indra dan hati. Dikatakan tersembunyi karena seringnya pintu-pintu hikmah tersebut luput dari kesadaran maujud atau kerumitan maujud itu sendiri untuk mengabstraksi setiap fenomena. Pintu hikmah yang pertama; bahwasanya pada setiap fenomena realitas terdapat gradasi, baik dalam ekosistem atau pun kehidupan dan aktifitas sehari-hari maujud itu sendiri, yang bertumpuk-tumpuk yang bahkan dapat ditemui pada serial televisi. Contoh: setelah angka satu maka angka yang lebih unggul selanjutnya adalah angka dua. Jika Sadra memiliki uang sebanyak satu juta, bukankah dua juta akan lebih baik? (dalam hal ini bukan berarti; jika satu wujud itu baik, bukankah dua wujud akan lebih baik? Karena ini tidak masuk akal. Wujud adalah pemenang tunggal yang tiada tanding). Contoh selanjutnya datang dari bayi, bayi itu tidaksama dengan anak SMA karena faktor fisik, pengetahuan, pengalaman, kedewasaan, dan juga kehidupan sang bayi pun baru saja dimulai. Demikian pula orang dewasa yang berbeda dengan anak SMA karena faktor serupa dan juga ruang lingkupnya dipenuhi oleh tanggung jawab. Orang parlemen berbeda dengan pengamen karena pengetahuan yang dimilikinya. Singa berbeda dengan zebra karena naluri yang dimilikinya. Dan manusia berbeda dengan monyet karena instrument yang digunakannya. Manusia didominasi dengan akal, indra dan hati yang siap membimbingnya ke arah yang progresif, sedangkan monyet didominasi oleh naluri. Maujud tidak dapat menciptakan hyle dan hanya bisa pasrah ketika ia telah sakaratul maut. Ia hanya dapat menangkap, mengolah apa yang telah tampak dan mempelajarinya. Itu artinya maujud telah menunjukkan setidaknya dua ketidaksanggupannya dalam hal kehendak. Maujud tidak sanggup menciptakan langit beserta gemerlap bintang dan planet-planetnya, sedangkan lagit ada bukan karena ada dengan sendirinya atau pun qadim, sebab langit pun terdiri dari susunan debu dan partikel yang memiliki gaya tarik semacam grafitasi yang berkumpul dan menggumpal hingga mendapatkan bentuk seperti yang kita lihat sekarang ini. Pertanyaan penting dalam paragraph ini ialah; siapa yang menyelenggarakan langit beserta isinya tersebut?Kebetulan atau ada dengan sendirinya adalah jawaban yang remeh melihat hasil terjadinya yang begitu menakjubkan. Adanya alam semesta pastilah adanya unsur kesengajaan. Sedangkan dalil gradasi mengisyaratkan adanya sesuatu yang melampaui maujud yang dapat menciptakan apa yang tidak dapat diciptakan oleh maujud dimana makhluk yang paling cerdas ibarat seekor monyet yang dibandingkan dengan manusia, dimana kecacatannya tampak begitu jelas jika membandingkan makhluk terbaik dengan suatu gradasi puncak di atas maujud.
                Gradasi puncak inilah yang diyakini telah meng-ada-kan alam dan menyelenggarakan kehidupan. Semesta pastilah memiliki batas. Karena jika alam semesta memiliki sifat tanpa batas maka yang tanpa batas menjadi jamak, wujud dan alam. Ini merupakan suatu kemustahilan mengingat wujud tidak memerlukan tandingan, karena ia adalah adikodrati dengan gradasi paling awal. Karena alam semesta memiliki batas itu artinya alam semesta adalah fana dan tidak selalu ada.
                Dengan ketidakunggulan maujud, pembaca dapat menangkap isyarat keberadaan sesuatu pada gradasi puncak yang mandiri dan mampu, yang tidak merasakan sakit dan hanya memiliki keunggulan dan tidak memiliki keterbatasan yang menyebabkan ia selalu ada. Inilah hasil analogi dari gradasi alam kepada kehidupan yang berakhir dengan wujud niscaya yang adikodrati. Dan itu pula yang dinamakan dengan kesadaran berketuhanan. Sadar akan adanya gradasi pada setiap langit yang berakhir pada ‘prima causa’, Penyebab dari semua penyebab. Alam tidak mungkin ada karena kebetulan, sebab tinta yang tanpa sengaja tertumpah takkan pernah menjadi puisi.
                Dan juga tidaklah mungkin sekiranya alam menciptakan dirinya sendiri, sebab kehendak hanya dimiliki oleh sesuatu yang berakal. Sedangkan alam tidaklah berakal sehingga tidak memiliki kehendak. Wujud diidentikkan dengan akal karena segala hal yang disifati dengan akal adalah kemuliaan. Bayangkan dengan flora dan fauna yang tidak memiliki akal dan hanya menuruti nalurinya sendiri, tentu keduanya tidak akan sanggup membangun sebuah peradaban, melainkan alam liar dimana hukum rimbalah yang berkuasa. Jika alam semesta menciptakan dirinya sendiri, itu artinya alam semesta yang didominasi oleh hyle mati memiliki kehendak. Lalu kenapa tidak, setelah menciptakan dirinya sendiri, planet pluto sebagai planet yang tersedia di jagad raya dan bagian dari alam mengerjakan tugas kelompok bersama planet yang ia cintai? Atau mengapa batu tidak dapat berjalan ke masjid dan menunaikan kewajibannya? Kenapa patty tidak dapat menggoreng dirinya sendiri? Bukankah alam memiliki kehendak? Jikalau alam menciptakan dirinya sendiri yang begitu hebat dan mengerikan, lantas apa gerangan yang menyebabkan atheis tidak menyembah alam? Bukankah alam itu adikodrati dengan gradasi di atas maujud, yang dapat menciptakan apa yang tidak dapat diciptakan oleh maujud? Jika alam mampu menciptakan dirinya sendiri dan tidak membutuhkan ritual penyembahan , bukankah dapat dikatakan bahwa ciptaan tidak tahu diri dan tidak tahu balas budi? Bayangkan, sesosok maujud telah di-ada-kan, ia dapat merasakan kelezatan makanan, merasakan nikmatnya rasa kenyang setelah sebelumnya merasakan kelaparan, merasakan segarnya segelas air putih di tengah keletihan, merasakan indahnya mencintai walau nasib kisahnya tidak seberuntung yang lain. Meski ada terkadang terasa mengecewakan, menyebalkan, dan berat, akan tetapi dengan ke-ada-an ini maujud dapat menjadi lebih bijak dan dewasa dalam menyikapi suatu fenomena. Di manakah putih jika tanpa hitam? Di manakah letak kedamaian jika tanpa kerusuhan? Seseorang menjadi buruk karena seseorang ada yang menjadi baik. Seseorang menjadi pintar karena seseorang yang lain ada yang menjadi bodoh. Makhluk terlahir dengan aksiden dualisnya, atau bahkan lebih. Memang ada adalah kesempatan untuk mandapatkan nikmat yang hakiki di tempat lain nanti, yang tidak akan pernah siapa pun rasakan jika ia tidak ada. Itulah alasan mengapa banyak orang mengatakan bahwa hidup adalah anugrah. Karena ada adalah kenikmatan.
                Sedangkan yang ke dua adalah tentang waktu. Waktu adalah hasil pengematan makhluk terhadap alam. Sedangkan alam ada lebih dahulu ketimbang maujud yang membuat gagasan tentang waktu tersebut. Waktu adalah hasil fenomena alam yang berpangkal kepada gerak. Karena alam terus menerus bergerak hingga berevolusi yang berpuncak pada maujud yang berakal, maka ia diikat oleh maujuddengan waktu. Inilah kuiditas-Nya. Dan jika wujud mengandung unsur gerak, maka pergerakan-Nya dapat diukur oleh waktu, seperti: sejak kapan? Sampai di mana? Dan sedang apa? Jika pertanyaan ini dijawab maka dapat dikatakan bahwa wujud tidaklah mutlak melainkan tumbuh dan berkembang dalam dan bersama waktu. Jadi wujud adalah diam aktif yang tinggal di dalam dirinya sendiri. Jika ditelisik melalui sudut pandang metafisika, biogenesis merupakan kenyataan yang konkret, karena substansi kehidupan berasal dari sesuatu yang telah ada; yakni ada dalam ide wujud yang menjadikannya maujud-maujud yang potensial menjadi aktual. Namun jika aspek metafisika tidak dilibatkan dalam diskursus tersebut maka terma kisah penciptaan jatuh ke dalam creation ex nihilo penciptaan dari ketiadaan. Inilah sisi letak kekeliruan filsafat Herakleitus, karena dalilnya tidak dapat diterapkan dalam konsep ketuhanan. Ia hanya dapat diterapkan pada pasca penciptaan itu terjadi.
                Ketiga; 20 sifat wujud dan juga 99 asma-Nya merupakan atribut yang maujud kenakan kepada wujud akibat emanasi pancaran kasih sayang-Nya. Seperti; kita melihat batu di toko material atau di pinggir jalan dimana jumlah batu lebih dari satu, inilah kuantitasnya. Lalu setelah ditekan ternyata batu tersebut memiliki sifat keras, jika diangkat ternyata batu tersebut memiliki berat, jika diperhatikan batu tersebut memiliki warna, jika diketuk batu tersebut memiliki bunyi, dan jika dipertimbangkan batu tersebut memiliki fungsi yakni untuk membangun sebuah tanggul atau jalan beraspal misalnya. Inilah aksiden-aksiden yang melekat pada esensi ada-nya batu. Sama halnya dengan wujud. Kita telah mendapati konteks bahwa wujud merupakan adikodrati, dengan bermodalkan logika kepastian, kita dapat menyematkan sifat-sifat wajib (pasti) dan sifat mustahil bagi-Nya, karena segala aktifitas wujud adalah mulia. 20 sifat wujud dan 99 asma-Nya berusaha mengatakan secara tersirat bahwa sang wujud benar-benar serius dengan aksiden dan kuiditas adikodrati-Nya. Jadi wajar jika ada kontradiksi di dalamnya, karena ketidak unggulan maujud itu sendiri yang memberi aksiden kepada-Nya yang merupakan emanasi dari pada-Nya. Andai wujud tidak meng-ada-kan atau mengaktualkan maujud maka maujud pun tidak akan memberikan aksiden kepada-Nya, karena yang berakal hanya dia seorang. Di sini penulis berusaha mengajak para pembaca untuk memisahkan antara prinsip dengan manifestasi, substansi dan aksiden, dan air laut dengan garamnya agar dapat memisahkan antara yang kekal dan yang sementara.

Senin, 30 April 2018

Deisme

              Baik. Kita mulai. Tuhan menitipkan makhluk kepada jagad raya karena jagad raya tercipta dengan citra-Nya. Jika kita mendapati seorang pematung yang professional, pastinya ia akan membuat patung yang baik dan menawan karena patung tersebut tercipta oleh sang “professional”. Jika sang “professional” dapat membuat patung yang indah karena “ke-profesionalan-nya”, terlebih Tuhan yang melampaui kata “ke-profesionalan” tersebut, yang menjadikan jagad raya menjadi mandiri dalam artian Tuhan melampaui kata ke-mandirian tersebut, yang tidak terlukiskan oleh kata kata atau oleh apapun. Selain itu eksistensi sang Qadim yang an sich ialah terbebas dari seluruh rantai batasan, sedangkan al hadist (jagad raya) adalah terbatas dengan segala kekurangan dan ketergantungannya, karena tanpa Tuhan Semesta bukanlah apa apa, atau bahkan tiada. Jadi jika yang Qadim memanifestasikan eksistensinya ke dalam jagad raya, maka kapasitas jagad raya tidak akan sanggup menampung enksistensi sang Qadim yang an sich, karena yang Qadim adalah absolut sedangkan ruang memiliki ujung yang satu dengan ujung yang lainnya, dan waktu yang memiliki awal dan akhir. Semesta haruslah bersifat terbatas, sebab jika alam semesta tidak terbatas maka yang absolut akan menjadi jamak, yaitu Tuhan dan alam semesta. Jadi Tuhan tidak mungkin bergerak, beraktifitas, dan ada dalam jagad raya yang bersifat terbatas. Dan jika Tuhan sekonyong konyong menjadikan dirinya menjadi terbatas hanya karena ingin mengabulkan do’a beberapa individu pilihannya secara langsung atau karena Ia adalah Tuhan maka Ia jauh lebih parah dari pada khalifah tiran. Itu artinya Tuhan tidak mengutuk, melaknat, dan mengabulkan do’a secara langsung, melainkan dengan menggunakan perantara yang juga bersifat terbatas atau membalasnya di hari nanti. Lagi pula ilmu Noetic telah mengatakan bahwa fikiran yang terfokus pada suatu objek, fikiran tersebut akan mengeluarkan masa transparan yang memiliki gaya tarik agar objek yang dimaksud dapat bergerak sesuai dengan keinginan pemilik fikiran tersebut, hanya saja masa yang dikeluarkan oleh individu tersebut terlalu kecil agar dapat merubah keadaan (semakin banyak yang memikirkan objek yang sama, maka masa transparan yang akan dikeluarkannya pun akan semakin besar). Apa lagi sebutan do’a kalau bukan memusatkan fikiran pada objek yang dimaksud, meskipun pemusatan fikiran tersebut dilakukan di luar kesadaran si pendo’a. Itu artinya yang bertindak mengabulkan do’a ialah idividu individu itu sendiri yang diberi kemampuan oleh Tuhan untuk menjadi perantara-Nya dalam mengabulkan do’a do’anya sendiri. Untuk membuktikan pendapat Noetic tersebut, anda dapat mencobanya dengan melakukan metode telekinesis. Telah banyak penjelasan tentang telekinesis di interlink, dan web web mereka pun dapat dipercaya karena kami telah membuktikannya.
Selanjutnya, Tuhan ialah mukhalafatu lil hawaditsi, dalam artian Ia tidak terikat oleh ruang dan waktu, jika Tuhan beraktifitas dalam jagad raya maka apa yang membedakan antara Tuhan dengan al hadist? Bukankah ludah para pemabuk dan cairan otak dari korban kecelakaan akan mengurangi kesuciannya?
                Bukti lain bahwa deisme itu nyata datang dari kisah pewahyuan yang diterima oleh nabiullah Muhammad SAW. Telah akrab di telinga kita bahwa yang membawa wahyu dari esensi Tuhan menuju hati dan fikiran Muhammad SAW ialah sesosok malaikat yang menamakan dirinya sebagai Jibril. Timbul satu pertanyaan dalam benak kami, “kenapa Tuhan tidak mewahyukan firmannya secara langsung dari esensinya menuju fikiran Muhammad SAW?” Pewahyuan ini adalah sebuah petunjuk penting dan bukti bahwa untuk makhluk yang paling dikasihinya sekalipun Tuhan tidak akan menjadikan dirinya menjadi terbatas. Maksud kami, kisah pewahyuan tersebut merupakan petunjuk sekaligus bukti bahwa untuk berkomunikasi dan beraktifitas dengan al hadist yang bersifat terbatas maka Tuhan akan menggunakan perantaranya yang bersifat terbatas pula untuk menyampaikan maksud dan tujuan Tuhan. Musa bahkan lebih parah lagi, ia berusaha menampung sedikit tanda tanda dari eksistensi Tuhan seorang diri dengan cara menatapnya (menampung eksistensi objek memalui penglihatan). Dan hasilnya pun dapat anda ketahui. Ia hampir mati karena telah melihat sedikit cahaya Tuhan yang barada di luar kapasitasnya.

Deisme pun memiliki keunggulan, yakni tidak mudah menyalahkan Tuhan dan takdir karena memberi cobaan ini atau cobaan itu (gabungan antara determinism dan posibilism/dengan beberapa penggalan tentunya), karena memang Tuhan tidak terlibat dengan aktifitas manusia secara langsung. Tuhan hanya menciptakan jagad raya dan menyediakan segalanya dalam jagad raya untuk kepentingan dan kelangsungan hidup para makhluk, menciptakan yang benar dan yang salah, agar yang salah dapat menjadi cobaan untuk tetap istiqomah di jalan Allah atau berbalik memungkiri dan menyekutukan-Nya. Jadi, pihak yang salah adalah si ini atau si itu, bukan Tuhan secara langsung (transenden). Dalam deisme pun, Tuhan tidak menyelamatkan, Tuhan hanya menyediakan penyelamatan yang menjadikan Dirinya sebagai penyelamat secara tidak langsung. Namun, deisme pun tidak luput dari kekurangan yakni, Tuhan yang dipahami seorang deis akan terlampau jauh untuk diakses atau diimanenkan sehingga seorang deis akan sulit untuk mendekatkan diri dengan Tuhan. Dan, seorang deis akan menyadari bahwa dirinya hanya seorang diri dalam realitas, layaknya debu dalam padang pasir atau buih dalam lautan. Tidak seperti pemahaman mayoritas di mana mereka baranggapan bahwa kami bersama ini atau kami bersama itu. Padahal itu semua hanya anggapan semu untuk menghibur dirinya sendiri dan menganggap bahwa dirinya tidak seorang diri dalam realitas (bukankah di akhirat kelak kita akan sorang diri?), meskipun Tuhan telah mengatakan bahwa Diri-Nya lebih dekat dari urat leher. Tuhan tidak berbohong tentang itu, melainkan pernyataan tersebut merupakan paradoks yang harus dipecahkan oleh para teolog. Semua definisi Tuhan dan perintahnya yang tertera dalam wahyu dan syari'at hanya berusaha untuk menciptakan insan ideal atau insanul kamil (pribadi yang sesuai dengan keinginan Tuhan) yang merupakan insan insan yang mendapat keselamatan karena mengikuti pentunjuk dari Tuhan, jadi Tuhan berusaha turun tangan untuk membentuk akhlaq dan kepribadian setiap individu sekaligus menyelamatkan umat manusia dari hal hal yang tidak diinginkannya. Dan, untuk melampaui insan insan tersebut sumber pengetahuan harus diperluas, dari Al-Qur’an dan hadist (sumber pokok/basic) menuju keseluruhan realitas, baik empiris maupun rasionalis, dari buku maupun kitab kitab yang lain, karena Al-Qu’an dan hadist bukan satu satunya sumber pengetahuan meskipun mereka berdua merupakan sumber sumber pokok yang harus tetap dipegang teguh.

Rabu, 18 April 2018

Teologi Negative

Sebelum memulai diskusi kita kali ini perlu diingat oleh para pembaca bahwa eksistensi Tuhan yang an sich adalah mutlak (tetap), absolut, tanpa batas, tanpa akhir (Ein Sof), dan misteri abadi, atau dapat dirangkum menjadi satu kata yakni negative (peniadaan/tidak dapat di-ada-kan). Dan, jika kalian mendapati seseorang yang mengatakan bahwa Tuhan adalah ini atau Tuhan adalah itu, Tuhan itu begini ataupun Tuhan itu begitu, percayalah bahwa orang yang mengatakan demikian telah keliru dalam memahami Tuhan yang memiliki sifat negative yang tak terlukiskan oleh kata – kata dan melampaui batas – batas sang mawjud itu sendiri yang relative (tidak tetap dan selalu berubah) dan fana ini. Di sini teologi negative berusaha mengatakan bahwa Tuhan adalah ada, agar teologi negative tidak terjatuh ke dalam atheism seperti yang banyak dipahami oleh orang awam yang berpemaham dangkal. Namun di sisi lain teologi negative juga berusaha mengatakan bahwa Tuhan adalah tiada, agar teologi negative tidak menjatuhkan Tuhan ke dalam terma, wacana, diskusi, rekonstruksi, konsep, perdebatan, dll (terma, wacana, diskusi, rekonstruksi, konsep, perdebatan identik dengan lisan dan gambaran, dan lisan atau gambaran yang dimiliki oleh mawjud identik dengan keterbatasan dan ketidak sanggupan. Sebagai contoh, dapatkah anda memikirkan seorang diri tentang segala hal yang dibutuhkan bumi, tatanan, pemerintahan, manusia dan makhluk lain tanpa lelah dan sedikitpun kesalahan atau kecacatan pada ide ide anda? Atau dapatkah anda merasionalisasi para makhluk gaib? Jadi Tuhan adalah ada sekaligus tidak ada dalam waktu yang bersamaan. Jika Tuhan yang bersifat tidak terbatas masuk ke dalam wacana dan diskursus apapun yang bersifat terbatas maka terbatas pula Tuhan itu sendiri, dan itu adalah mustahil. Tuhan adalah tiada, tiada di sini atau tiada di situ, karena Tuhan adalah misteri abadi yang tidak dapat diketahui keberadaannya oleh siapapun, sebab tahu berarti siap memasukkan Tuhan kedalam rekonstruksi apapun yang bersifat terbatas. Jadi, sikap yang tepat untuk melukiskan Tuhan yang sebenarnya (an sich) adalah dengan diam, karena dengan diam siapa pun tidak memasukkan Tuhan ke dalam term apapun. Tuhan, Tuhan, danTuhan, Ia adalah misteri abadi, karena mawjud (terbatas) mana yang dapat menampung eksistensi Tuhan yang bersifat tidak terbatas seorang diri, jika sang mawjud berusaha melihat (menampung dalam fikirannya melalui penglihatan) eksistensi Tuhan yang bersifat tanpa batas maka dapat disimpulkan mawjud tersebut akan membunyikan lonceng kematian untuk dirinya sendiri, dan itu adalah rasa yang sama yang pernah dirasakan oleh Musa yang berusaha melihat Tuhan di gunung Thursina (Sinai). Singkatnya, kapasitas yang dimiliki oleh makhluk tidak akan sanggup menampung eksistensi Tuhan yang berada di luar kapasitasnya “Hasrat menginginkan kepenuhan, namun semakin ia menginginkan kepenuhan, ia tidak dapat mencapai yang diinginkannya”. Teologi negative ini dapat disebut juga sebagai teologi apofatik, dan teologi apofatik lebih unggul beberapa langkah dari pada lawannya yakni teologi katafatik. Jadi, jika teologi negative (apofatik) lebih unggul dari pada teologi katafatik lalu mengapa Tuhan memilih untuk mem-positif-kan (meng-ada-kan) Dirinya dalam wahyu? Karena Tuhan yang selalu dipahami secara negative akan terlampau jauh dan sulit untuk didekati ataupun diakses oleh para makhluk, Tuhan mem-positif-kan Diri-Nya agar setiap hamba dapat merasa dekat dan nyaman berada di bawah naungan-Nya (imanen) tanpa harus melupakan tanzih terhadap-Nya.

Minggu, 23 April 2017

Guide





Masih terngiang dalam fikiran kita tentang tidak sedikitnya dan tidak jarangnya kita temui beberapa individu di Eropa dan negeri-negeri barat yang mayoritas menganut agama Nasharan (Nasrani) namun bersikap seperti orang yang kekurangan asupan protein, mereka berpendapat bahwa agama islam adalah agama yang identik dengan terorisme, karena teroris di zaman modern mengaku dan menganggap perbuatannya sebagai tindakan jihad untuk menentang golongan kapital yang dianggap merugikan dunia islam, sebagai akibatnya islam yang mengajarkan norma dan akhlakul karimah pun terkena getahnya akibat ulah teroris yang membawa nama islam. Dalam menghadapi tudingan seperti itu kami berusaha untuk bertanya kepada mereka, dan yang menjadi pertanyaan kami adalah, di mana letaknya kearifan nasrani Eropa jika di telisik dari sejarahnya? Di manakah umat nasrani ketika terjadi pembantaian masal di Jerusalem dalam perang salib? Di mana tepatnya posisi umat nasrani Mongol ketika membumi hanguskan kota Bagdad sebagai cahaya dunia yang menyimpan banyak khasanah ilmu pengetahuan yang dapat dibilang mapan dan maju pada zamannya yang tidak lagi dapat diwariskan dan dibanggakan oleh umat muslim sedunia di masa kini? Siapa yang bertanggung jawab atas penjajahan di dunia timur dan Afrika? Dan siapa yang mengantarkan para nasrani Eropa keluar dari zaman kegelapan menuju zaman Renaissance (pencerahan) yang menjadikan mereka bangsa yang modern dan makmur sampai sekarang? Dan kini sebagian nasrani Eropa dan barat mengatakan bahwa islam adalah agama pedang yang menghendaki adanya terorisme? Apa mereka tidak memiliki cermin untuk melihat keseluruhan moyangnya di masa lalu yang tampak seperti barbar yang haus darah (terutama orang frank)? Memang agama nasrani tidak mengajarkan para penganutnya untuk berisikap dan berprilaku seperti yang kami jelaskan di atas, karena dengan logika analogi kami dapat mengethui bahwa seluruh agama jika diperhatikan dari ajarannya mereka dapat menjadi plural yang berarti semua agama mengajarkan kebaikan, namun pluralitas tetap tidak dapat diterapkan dan ditoleransi ketika menyinggung tentang teoligi ketuhanan masing-masing agama. Lalu siapakah yang salah atas tragedi dan anggapan buruk di atas? Sejauh yang kami ketahui, yang bertanggung jawab atas permasalahan di atas adalah individu-individu itu sendiri yang tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang agama lain tapi sudah mampu melepeh dan memuntahkan anggapan-anggapan yang tidak menyeluruh yang sebenarnya tidak diajarkan oleh agamanya, namun ada pun yang menolak dan tidak menerapkan apa yang diajarkan oleh agamanya seperti menjajah, membantai, merampok ilmu pengetahuan (Andalusia), dll. Apakah agama nasrani mengajarkan umatnya untuk menjajah, membantai, dan apa pun yang berkaitan dengan intoleransi? Jawabannya tentu saja tidak! Bahkan Yesus sendiri, seperti yang diyakini oleh orang nasrani pernah mengajarkan “jika pipi kananmu ditampar oleh orang lain, maka berilah pipi kirimu”. Memang di bumi bagian timur nasrani datang melalui penjajahan sedangkan islam datang melalui perdagangan, namun sikap dan perilaku penjajah tersebut yang menyebarkan ajaran nasrani tidak mencerminkan agamanya yang melarang adanya penjajahan dan keserakahan, jadi, mereka yang meyakini agamanya namun mereka pula yang melanggar ajaran-ajaran agamanya, seperti keserakahan contohnya. Tidak jarang tokoh-tokoh barat menjalani hidup yang tidak mencerminkan agamanya, meskipun dalam islam juga memiliki orang-orang yang tidak mencerminkan agamanya, bahkan agama Budha pun tidak lepas dari anggapan miring masyarakat ketika terjadi pembantaian Rohingya. Jadi, dari penjelasan singkat kami ini, kami berharap para pembaca muslim yang mengetahui sejarah kebudayaan islam mampu melihat orang-orang yang sok tahu dari kalangan nasrani seperti di Eropa dan negeri-negri barat yang sedang memakan umpan dan terpancing untuk menemukan bumerangnya sendiri dalam bentuk fakta historis yang bahkan sulit untuk mereka tangkap dan menjadi masalah dan dilemma untuk dirinya sendiri atau mungkin bahkan membuat malu agamanya sendiri, atau dengan kata lain “senjata makan tuan” atau “mulutmu harimaumu”, sebab buku-buku sejarah akan menampar mereka dan membongkar kebodohan orang-orang tersebut yang dengan sengaja berusaha menyinggung perasaan umat muslim melalui su’udzon dan fikiran negative mereka terhadap umat muslim di mana orang-orang barat tidak bisa lari dari masa lalunya yang identik dengan Barbar yang tidak tahu terima kasih dan balas budi dengan banyaknya orientalis yang membawa Eropa keluar dari abad kegelapan. Sebagai seorang muslim, siapa pun anda berhak untuk bangga terhadap agamanya sendiri karena memiliki masalalu yang indah di sana, bahkan mampu mengantarkan agama lain untuk keluar dari masa-masa kegelapannya. Dan tugas kitalah sebagai muslim dan muslimah untuk mengembalikan masa-masa keemasan itu untuk kembali ke pangkuan islam yang satu dan jaya, dimana tidak ada kecurigaan dan sengketa antara Syi’ah dan Ahlussunah, muslim dan non-muslim, di mana serigala dan kambing, domba dan rumput dapat saling hidup berdampingan dan rukun tanpa adanya sebuah pihak yang dirugikan dan bersama bertasbih kepadanya dengan caranya masing-masing.

Rabu, 08 Februari 2017

Yesus





 Jesús Para saber más sobre personas que marcan la diferencia sostenible visita www.solerplanet.com:
Yesus, dalam keyakinan Nasharan ia dianggap sebagai domba Allah (agnus Dei) yang dikorbankan di tiang salib untuk menebus dosa yang diwarisi oleh adam (Original Sin) karena memakan buah terlarang (buah pengetahuan, yang membuat siapa pun yang memakannya akan memiliki pengetahuan yang sama seperti pengetahuan yang dimiliki oleh Tuhan, dan karena Adam dan Eve memakan buah ini sehingga dirinya dapat mengetahui dirinya telanjang dan dapat mati). Dosa ini lalu diturunkan ke anak cucunya dari generasi ke generasi hingga kematian Yesus di tiang salib barulah dosa itu terampuni. Karena kepatuhannya dan ketaatannya kepada Allah hingga kematiannya di tiang salib maka Allah mengangkatnya menjadi Tuhan (kata Paulus/pendapat personal, bukan argumen teologis) dan menjadi salah satu dari ketiga oknum yaitu sang anak. Perlu diperhatikan di sini bahwa pengertian anak Tuhan dalam Nasharan adalah metafora yang berarti bahwa Yesuslah orang yang paling dekat dengan Tuhan, mungkin dalam islam yang dapat dikatakan sebagai anak Tuhan tidak lain ialah nabiullah Muhammad SAW, namun islam tidak menggunakan metafora tersebut karena dapat meracuni banyak fikiran orang awam yang bersyaraf lemah dan mudah ditipu.
Bukan hanya itu, jika di dalam islam wahyu itu tertulis yang disebut sebagai Al-Qur’an lain halnya dengan Nasharan yang menganggap bahwa Yesus adalah firman yang hidup dan firman yang mendaging, itu artinya pengertian firman menurut Nasrani adalah tidak tertulis. Adapun sebagian perkataan Yesus yang diabadikan kedalam Al-Kitab yang selalu  mendapatkan refisi (versi Copynya) dengan harapan para pembaca dapat memahami setiap kata dengan benar. Injil setingkat hadist dalam islam. Perlu ditekankan di sini bahwa kitab injil kaum Nasharan yang asli tidak pernah mendapatkan refisi sekali pun, hanya terjemahannya saja yang mendapat refisi dan hanya versi revisinya yang boleh diedarkan. Berbeda dengan kaum muslim dimana kitab yang aslilah yang diedarkan, itu sebabnya dalam islam tidak mengenal refisi karena memiliki fersi aslinya.

Sekilas Tentang Trinitas




Yang transenden (yang paling ghaib) sebagai bapa, yang kreatif sebagai anak, dan yang imanen (yang dekat) sebagai roh kudus. Tuhan adalah satu namun sebagai ketiganya sekaligus dan masing-masing karakter disebut oknum, dan kaum Nasharan menyebut ini sebagai Trinitas atau tri tunggal. Bagi kaum Muslim yang telah terbiasa dengan konsep ketunggalan Tuhan yang tak terbantahkan apa pun caranya mungkin agak sedikit sulit untuk memahami doktrin yang satu ini karena nyatanya doktrin trinitas ini agak terlalu bertele-tele dalam menjelaskan konsep ketuhanannya yang memang hanya ada satu. Ada sebagian orang yang meyakini bahwa konsep Trinitas adalah hasil perkawinan antara doktrin tritunggal dari mesir kuno yang menuhankan Osiris-Isis-Horus dan berusaha mengconvert atau menyelaraskannya dengan ajaran Nasharan pada zaman Konstantine yang agung, dan tokoh yang paling terkenal di antara mereka ialah Athanasius dari Aleksandria yang dengan gagahnya menyanggah konsep yang dikemukakan oleh Arius. Arius yang beranggapan bahwa Yesus sama sekali tidak memiliki nubuat ketuhanan harus berhadapan dengan Athanasius yang mengemukakan doktrin trinitas pada consili Nicea. Singkat cerita doktrin Athanasiuslah yang diterima oleh sang kaisar pagan yang bahkan hingga kematiannya yang bernama Konstantine yang agung yang berkedudukan di konstantinopel (Istanbul).
Percaya atau tidak, doktrin ini sangat sukar dipahami bahkan oleh kaum Nasrani itu sendiri. Sebagian theolog beranggapan bahwa ini adalah suatu kelebihan bagi kehidupan theologis Nasrani dimana setiap orang yang kesulitan memahami Tuhan akan dengan mudah memahami Tuhan itu sendiri karena tidak memasukkan Tuhan kedalam konsep apa pun yang bersifat terbatas, dan perlu kalian tahu bahwa ketidak tahuan seseorang kepada Tuhan adalah pengetahuan yang tertinggi yang pernah dicapai oleh manusia (apofatik).