Hans zimer

Free Music Sites
Free Music Online

free music at soundcloud

Senin, 04 Mei 2026

Ketunggalan Khalq

Tuhan bersifat tunggal, dikarenakan jika tuhan bersifat jamak meskipun kedua-Nya, ketiga-Nya, atau keberapapun, mereka takkan menjadi ilahiah  walau dalam kemajemukan-Nya mereka sama dan unggul. Ini dikarenakan, jika Tuhan berbilang maka eksistensi-Nya dapat terwakili oleh Tuhan yang lain. Namun jika Ia hanya berjumlah satu maka sudah tak ada lagi yang dapat mewakili-Nya. Kita andaikan Tuhan berjumlah lima dan sama-sama memiliki keunggulan yang sama. Jika salah satu dari kelima Tuhan tersebut absen dan tak hadir, meski itu tidak mungkin dikarenakan Ia selalu ada, atau mungkin malah keberbilangan membuka kemungkinan lain, maka kealfaan-Nya dapat terwakili oleh Tuhan yang lain. Dan kita telah memiliki Tuhan yang berjumlah empat jika salah satunya memilih untuk tak hadir. Selanjutnya kita andaikan lagi pada Tuhan yang berjumlah empat yang mana salah satu-Nya mengambil keputusan kembali untuk alfa dalam realitas sehingga kita hanya memiliki tiga, selanjutnya dua, hingga sampai pada yang satu. Jika Tuhan yang satu ini memilih untuk ikut alfa dalam realitas pula, maka ketidak hadiran-Nya sudah tak dapat lagi untuk diwakili dan pengelolaan makhluk akan lenyap dan realitas akan kehilangan pengelolaan dan keseimbangannya. Jika benar bahwa Tuhan bersifat jamak, tentunya mereka akan saling membantu dan menerima bantuan dari sesama-Nya dalam pengelolaan makhluk-Nya. Pertanyaannya, apakah anda mau menyembah Tuhan yang dibantu bahkan oleh sesama-Nya?
Tuhan tidak memerlukan wakil dalam menjalankan kepemimpinan dan kerajaan-Nya, dikarenakan Ia selalu ada, yang menjadikan Ia satu-satu-Nya yang diutamakan oleh para ciptaan-Nya. Namun perlu diketahui pula bahwa tak ada yang mustahil bagi-Nya, termasuk lenyap dalam realitas tanpa bukti dan jejak sekalipun. Penulis berusaha mengabarkan bahwa tak ada yang mustahil bagi-Nya yang selanjutnya mungkin akan memandu para pembaca menuju kajian dangkal yang tak perlu dianggap serius. Namun terdapat pertanyaan musykil yang menarik untuk penulis ulas sedalam mungkin secara substasial, seperti; "mengapa khalq hanya berbilang satu dalam penalaran katafatik? Mengapa Ia tidak berjumlah dengan keunggulan yang sama, sama-sama sanggup dan sama-sama mampu, sama-sama qadim dan sama-sama bersifat azali, sama-sama selalu ada dan tak rapuh? Apa yang menjadikan khalq bersifat tunggal?". Khalq dapat dikatakan tidaklah membutuhkan bilangan meski keberbilangan khalq memungkinkan ada-Nya secara visual karena hadirnya konsep ini, dan tak ada yang mustahil bagi-Nya untuk mengada dalam keterbagian-Nya. Namun jika kita mengatakan "apa pun mungkin bagi-Nya", maka dengan media apa yang memungkinkan makhluk mengetahui dan memastikan ke-Ia-an-Nya? Nalar tentu akan menemui kekurang universalan logika seperti penulis saat ini jika berusaha mengabstraksi wujud yang lebih dari satu. Lalu jika makhluk menggunakan hati, tentu hati bukanlah media yang tepat untuk memastikan keberbilangan Al khalq. Sebab hati tak memiliki kapasitas kognisi untuk berfikir dan menetapkan secara rasional. Sedangkan panca indra ibarat tangan lumpuh yang tak memiliki daya untuk digunakan. Secara implisit, tulisan ini membongkar kekurang memadainya sistem katafatik melalui cara berfikirnya yang kering akan makna dan penjelasan. "Ia Tuhan, Ia dapat melakukan apa saja." Dengan keterangan seperti ini, apa lagi yang akan kita bicarakan tentang-Nya? Bisa jadi, keterangan seperti ini hanya upaya makhluk yang malas atau gagal menalar Tuhan. Padahal jika audiens mau membuka mata akan kompleksitasnya fenomenologi ketuhanan, ia kaya akan penjelasan rasional dan berusaha menembus batas-batas nalar sekaligus membuka tabir-tabir yang melingkupi seorang hamba akan pencipta-Nya, sekalipun dalam beberapa hal itu tidak mungkin, namun memiliki nilai progresif untuk diperhitungkan. Lalu apakah selanjutnya makhluk diharuskan untuk maju dan masuk ke ranah negative dalam menalar khalq? Ya! Selama itu membawa makhluk menuju kemajuan untuk kesadaran berketuhanan, lantas apa yang menghalangi pengkaji untuk tidak dan menolak mengambil pilihan ini?

Kamis, 12 Maret 2026

Komentar Untuk Aristoteles Dan Herakleitus

Aristoteles
Dalam filsafat Yunani klasik kita mengenal Aristoteles beserta gagasannya yang mengatakan "sesuatu dapat bergerak dikarenakan ada yang menggerakkannya. Dan yang menggerakkannya pun digerakkan oleh penggerak yang lain. Begitulah seterusnya pergerakkan bergerak hingga mencapai pada penggerak yang tidak bergerak dan tidak digerakkan oleh apapun. Itulah Nous." Dalam benak Aristoteles, "Nous haruslah tidak bergerak yang menyebabkan-Nya tidak bertambah atau berkurang, dan pula bahwa Nous tidaklah terikat oleh waktu yang berusaha mengukur-Nya seperti sejak kapan? Sedang apa? Dan sampai di mana?" Konsep ini sempat diadopsi oleh Abu Abbas Al Aqqad dalam karyanya yang berjudul "Allah", yang mana di Indonesia karya ini berjudul "Tuhan Di Segala Zaman". Penulis menemukan dalam sub bab awalnya bahwa Aqqad berargumen "Tuhan dapat merubah tetapi tidak dapat berubah". " Tidak dapat" Dalam konsep ini bukanlah sifat wajib bagi Nous. Meskipun ada penjelasan lain bahwa Ia memang "tidak dapat". Konsep ini pula merupakan kalimat lain dari kalimat Aristoteles namun bermakna sama. Penulis komentar ini menemukan bahwa konsep ini perlu dikoreksi, karena nalar yang menjadi alat mereka untuk mengabstraksi Nous berkontradiksi kontras dari penjelasan wahyu akan pengelolaan makhluk oleh khalq-Nya di alam dunia mau pun akhirat. Akan lebih masuk akal dan lebih koheren jika logikanya berbunyi seperti ini: "Nous dapat merubah dan dapat berubah menjadi merubah, dikarenakan Nous mampu, baik mengentifikasikan-Nya maupun mengabsolutkan-Nya."

Herakleitus
Kita mengenal Herakleitus sebagai filsuf era klasik ketika filsafat masih dikaji bukan hanya untuk menemukan pelajaran, melainkan pula untuk mencapai kebijaksanaan tertinggi dan meniru Nous paling tidak untuk sekedar berfikir. Tujuan Herakleitus berfikir adalah untuk mencapai kebijaksanaan, bukan untuk melebih-lebihkan terlebih melenggang pongah karena bangga menjadi yang pertama dan mengelitkan atau mengeklusifkan apa yang sebenarnya sederhana. Dia benar jika sesuatu tidak akan sama untuk kedua kalinya. Namun bukan berarti pandangan ini menjadikan individu atau masyarakat berlomba-lomba untuk mendapatkan atau menjadi yang pertama. Herakleitus memiliki otak, sedangkan Tuhan memiliki takdir. Jika Herakleitus ditakdirkan untuk menjadi yang ke dua, ke tiga, atau berapa pun, apakah ketidak menjadian yang pertama akan mengakhiri segalanya? Ingat, Bumi akan tetap bulat dengan anda menjadi yang pertama atau yang terakhir.

Sabtu, 22 Juni 2024

Sejarah Perkembangan Filsafat Islam

Sebagai awal dari tulisan ini mungkin tulisan ini akan kuberi judul "gonjang ganjing dan geliat filsafat dalam tubuh Islam". Namun sepertinya Tuhan berkata lain, karena aku baru saja menemukan judul yang tepat untuk tulisanku kali ini. Dari tulisan di atas, audiens mungkin dapat menebak hal apa yang akan kutulis. Kehadiran filsafat dalam tubuh keyakinan umat muslim memiliki dua sumber kedatangannya. Yang pertama, pendapat yang mengatakan bahwa kehadiran filsafat Islam berawal dari diskusi dan ijmak para fukaha awal (pada era kehidupan nabi SAW) dalam menentukan suatu hukum haram dan halalnya sesuatu. Jadi dalam pendapat ini filsafat bukanlah hal bid'ah yang hadir dalam Islam, melainkan suatu praktik yang lahir berbarengan dengan kebutuhan umat akan suatu hukum halal atau haramnya sesuatu, yakni ilmu fikih. Sebab dalam kenyataannya para fukaha pun menerapkan metode metode berfilsafat untuk menentukan hukum, seperti Qiyas, berdiskusi, atau pun berdemonstratif. Bahkan nabi SAW pun terkadang berfilsafat untuk menetapkan suatu hukum. Pendapat ini sangat kontras terkesan kabur dan lari dari tuduhan bid'ah yang mengancam eksistensi filsafat, akan tetapi sangat masuk akal untuk dicerna dan dipahami. Pendapat selanjutnya ialah pendapat yang mengatakan bahwa filsafat Islam berawal dari penerjemahan besar besaran yang diperintahkan langsung oleh khalifah Abbasiah kala itu, Al Makmun, terhadap karya tulis filsafat Yunani dan Persia. Di sinilah umat muslim mulai tersentuh dan terhelenisasi secara terlambat jika helenisasi dirujuk dari zaman Alexander Agung. Dan pendapat inilah yang mengatakan secara langsung bahwa filsafat merupakan bidang keilmuan yang bid'ah, meskipun ada penjelasan tersendiri seputar bid'ah tersebut. Dalam perjalanannya, filsafat islam mendapatkan tantangan berupa hujjah dari seorang yang memenangkan sayembara untuk menekan dan mengendalikan pertumbuhan filsafat, karena pada saat itu pemikiran filsafat bergerak liar, bahkan menyerang doktrin doktrin pokok umat muslim seperti Al Qur'an dan hadits. Tersebutlah Abu Hamid Al Ghazali yang berdiri kokoh menyongsong para filsuf muslim yang menyimpang dari akidah. Ia mendapatkan kemasyuran karena dianggap berhasil menekan pertumbuhan filsafat kala itu dengan kitab hujjahnya yang berjudul "Tahafut Al Falasifah". Meskipun yang ia hujjah hanya pada ranah metafisikanya, bukan pada ranah filsafat secara keseluruhan. Oleh sebab itulah Ibn Rusyd tampil ke permukaan untuk membela filsafat dalam karyanya "Tahafut At Tahafut". Namun, pasca serangan ofensif yang gencar dilakukan oleh imam Ghazali, filsafat Islam lantas tidak surut begitu saja, meskipun banyak yang menganggap bahwa pasca hujjah yang dilakukan Ghazali filsafat Islam mengalami kemunduran. Hal itu tidaklah benar demikian. Kita masih bisa mengenal filsuf filsuf besar umat muslim yang muncul pasca hujjahnya imam Ghazali, seperti Suhrawardi, Mulla Sadra, Seyyed Hossein Nasr, dan Hasan Hanafi sebagai filsuf Islam kontemporer. Akan tetapi filsafat Islam mulai berubah dan mengambil bentuk yang tidak seperti sebelumnya lagi, dimana nalar menjadi pijakan utamanya, melainkan menggabungkan antara ajaran irfani dan burhani. Jadi, pasca hujjah yang dilakukan oleh Ghazali filsafat Islam sudah tidak murni bersifat rasional, melainkan dipadukan dengan pengetahuan intuitif nan mistik. Timbul pertanyaan dalam benak kami, jika filsafat dan sufisme berpadu hingga menjadi satu kesatuan yang utuh maka apakah gabungan kedua epistemologi ini akan melahirkan bidang kajian baru?

Senin, 20 Mei 2024

Metafisika

Dewasa ini, dengan kecanggihan berfikir dan mudahnya pengetahuan untuk diakses hingga pengerukkan total yang tak ada habisnya atas pengetahuan. Sudah sejak lama kita meyakini adanya ada ada yang tak dapat dicerap dan diindra dengan alat alat empirik. Ini menandakan adanya ada yang melampaui ada ada fisik yang penjelasan dan deskripsinya tak dapat dijawab dan dijelaskan dengan metode metode laboraturium atau pun pengolahan data dari studi arkeologis, atau pun observasi. Ada yang dimaksud di sini sangatlah unik jika seorang agen masih baru baru mengkaji bidang keilmuan yang dianggap mampu menjelaskan sekaligus berdiri di atas makhluk makhluk fisik yang kita definisikan dengan pengetahuan metafisika. Pengetahuan ini memang sejak awal selalu setia mengisi kekosongan yang tidak dapat dijawab oleh penelitian indrawi. Kita dapat meneliti makhluk makhluk mikroskopik, kita dapat menentukan usia sebuah guci kuno dengan studi kadar karbon, kita bisa merubah logam menjadi emas jika mitos yang digembor gemborkan itu benar, kita bisa mengamati kebiasaan kebiasaan satwa satwa liar untuk menghasilkan pengetahuan baru tentangnya, namun apakah kita mampu menjelaskan dan mendemonstrasikan ada yang tak dapat dilihat, disentuh, dihirup, atau pun dirasa dengan indra pengecapan, atau dengan indra indra lainnya yang jika memang memungkinkan dan diperlukan? Perlu audiens ketahui dalam pembahasan ini, bahwa ada bukan hanya sebatas pada wujud fisik yang dapat kita cerap dengan alat alat panca indra yang dapat kita alami kapan saja dan di mana saja, melainkan ada pula hal hal yang tak dapat kita cerap dengan alat alat empirik, seperti waktu, ruang, atau pun ide. Waktu, ruang atau pun ide tidak dapat kita sentuh, kita lihat, atau pun kita dengar, namun semua orang tahu bahwa ia ada. Kita hanya bisa mencerap manifestasinya (perwujudannya) dengan alat alat empirik kita. Kita dapat menyentuh jam dinding yang merupakan manifestasi dari waktu. Kita bisa menyentuh dinding atau tepi gelas yang merupakan batas batas dari ruang. Kita bisa menggenggam buku yang merupakan perwujudan dari ide. Akan tetapi kita tidak bisa mecerap dengan sensibilitas kita akan substansi dari ke tiga hal tersebut. Itulah sebabnya siapa pun tidak bisa menggenggam sebuah pemikiran. Kau tidak bisa melihat atau pun menciumnya. Sebab ia bukanlah ranah bagi pengetahuan empiris, melainkan wujud wujud yang ada dalam kajian metafisika, yakni penyelidikan setelah dan melampaui alam alam fisik.

Rabu, 08 Mei 2024

Meruntuhkan Atheisme

Sejauh yang kami tahu tentang paham atheis ialah rancunya metode yang mereka gunakan dalam menginterpretasikan objek yang mereka bidik dan mereka kaji. Mereka menggunakan metode empirik untuk menafsirkan wujud metafisis. Menggunakan mikroskop untuk meneliti jin dan iblis. Ini omong kosong! Mereka menggunakan sains untuk meneliti Tuhan, padahal objek yang sedang kita bahas merupakan wujud metafisik yang melampaui fisik dan tak berjisim. Ada fakta dari kenyataan yang mengecewakan untuk para pengkaji sains yang harus mereka terima dengan lapang dada, yakni; Tuhan dan sains takkan pernah dapat berdamai dan mengerucut ke satu titik, di mana sains berusaha menjelaskan Tuhan dengan bukti bukti ilmiah. Karena Tuhan pun memiliki sisi transenden yang tak dapat kita validasi dengan bukti ilmiah. Karena sifat khas dari fakultas keilmuan metafisika ini bersifat spekulatif. Meskipun begitu, argumen tentang keberadaan Tuhan sangatlah meyakinkan dan sulit walau hanya untuk sekedar meragukan dan meruntuhkan konsep konsepnya yang koheren dengan scripture dan nalar ini. Hingga sampai suatu saat kebenaran akan konsep dan rekonstruksi ketuhanan dapat tervalidasi di yaumul akhir. Namun Tuhan dapat berdamai dengan pengetahuan yang bersifat apriori. Karena pengetahuan ini menganggap dan menempatkan Tuhan sesuai dengan tempat yang seharusnya untuk diselidiki, yakni dengan metode metafisik. Seluas apa pun wujud Tuhan, tetaplah makhluk dikaruniai daya intelek untuk mengetahuinya dan mengikatnya dengan kaidah kaidah berfikir dan hukum hukum yang makhluk miliki, sebagai dampak dari tajalinya. Meskipun pengetahuan yang makhluk miliki sangat sedikit tentang Tuhan. Bahkan saking sedikitnya dapat dikatakan bahwa makhluk tidak memiliki pengetahuan apa pun tentang Tuhan. Pertanyaan seputar "mengapa Tuhan memilih menjadi gaib dan tak terlihat?", "mengapa Tuhan terkadang bersifat tak adil dalam realitas?", dan "mengapa harus ada ketimpangan sosial di lingkungan masyarakat?", itu semua merupakan pertanyaan pertanyaan yang tak memiliki bobot metafisis yang tak perlu dijawab atau pun digubris dan dipusingkan, karena setiap pertanyaan akan selalu ada dalam kenyataan dan tak pernah dapat dibendung oleh nalar siapa pun, dan pertanyaan pun tak pernah ada habisnya. Dan itu adalah wajar. Setidaknya begitulah yang dikatakan Imanuel Kant dalam karyanya yang berjudul "Critique of pure reason" Seperti yang Aristoteles katakan, bahwa "Tuhan tidak mungkin memikirkan hal hal yang remeh. Ia hanya memikirkan hal hal yang penting, sementara yang terpenting dalam realitas adalah diri-Nya sendiri. Itu berarti Tuhan Adalah akal yang memikirkan diri-Nya sendiri." Sikap seperti inilah yang seharusnya ditiru oleh para pengkaji burhani. Meskipun Tuhan Aristoteles tersebut menyimpang dari ajaran Islam.

Minggu, 15 Oktober 2023

Abiogenesis

Tulisan ini adalah sedikit pengantar untuk menemanimu tidur. Mulanya hanya ada benda benda mati yang dimiliki oleh bumi seperti tanah, air, api (panas matahari), dan udara (oksigen). Dengan keempat benda mati tersebut atau yang lebih akrab kita sebut dengan keempat elemen dasar, terciptalah makhluk makhluk hidup. Dimulai dari makhluk makhluk yang sederhana seperti, bakteri, mikroba, dan makhluk makhluk mikroskopik yang tercipta secara spontan dari keempat elemen dasar tersebut. Lalu dari makhluk makhluk mikroskopik tersebut berevolusilah mereka menjadi makhluk makhluk dengan wujud yang lebih kompleks dan dengan ukuran yang semakin membesar. Evolusi adalah kata kunci untuk tulisan ini, di mana eksistensinya takkan terbantahkan baik dengan kreasionism maupun dari dalil dalil mentah yang dilontarkan oleh tokoh tokoh agamis, yang mengklaim bahwa biogenesislah yang seharusnya memiliki tempat di hati semua orang, dengan mengatakan bahwa kehidupan berawal dari sesuatu yang hidup, yakni Adam dan Hawa. Ya, tak dapat dipungkiri, Adam dan Hawa memang benar benar ada, dikarenakan yang mengatakannya adalah sesuatu yang tak pernah melakukan sebuah kesalahan, yakni Allah. Akan tetapi, fakta lapangan mengatakan hal yang lain dari apa yang dikatakan oleh sang logos tersebut. Jika kita cermati, tampaknya ada sedikit teka teki yang disodorkan dari sang intelek pertama kepada makhluk yang telah dapat berfikir dan memiliki akal. Dalam ayat Al Qur'an QS Al Anbiya:30, dan QS An Nur:45, dikatakan bahwa makhluk hidup tercipta dari air. Ada pun QS As Sajdah:7, dan QS Al Hijr:26 dimana dalam kedua ayat tersebut dikatakan bahwa manusia tercipta dari tanah atau lumpur. Di sini, Allah berusaha memberi sedikit petunjuk kepada manusia tetang dari mana mereka berasal. Dan keempat ayat tersebut pun dapat audiens ketahui sejalan dengan konsep abiogenesis yang mengatakan bahwa kehidupan berasal dari materi materi mati, di mana Allah memberi petunjuk tentang dari mana makhluk berasal sebanyak 50%, yakni dari tanah dan air yang menciptakan lumpur yang membawa kehidupan. Dan 50%nya lagi dilengkapi oleh akal manusia dengen menambahkan dua elemen selanjutnya, yakni elemen api (panas matahari), dan udara (oksigen) sehingga terselenggaralah kehidupan primordial yang terus berevolusi. Dan petunjuk ini diberikan berabad abad lalu sebelum ditemukan dan digunakannyanya instrumen instrumen modern seperti mikroskop dan metode observasi. Ini mengagumkan! Dan, untuk membuktikan teori evolusi, audiens dapat mengamati perkembangan sebuah virus, dimana ia akan berubah wujud dan semakin ganas jika kita tidak sigap dalam menanggulanginya. Ada pun rumput liar dan semak semak. Semua orang tahu bahwa tak ada seorang pun atau siapa pun atau apa pun yang sengaja atau membawa benihnya ke tanah lapang, namun mengapa ia bisa hidup? Dan contoh yang terakhir datang dari sebuah selokan. Seperti sebelumnya, tak ada yang sengaja membuang atau menaruh telur telur ikan cere, ikan sepat, cupang sawah, atau pun yuyu. Tapi kita semua tahu bahwa mereka ada di dalam selokan. Dari mana mereka semua berasal kalau bukan dari bakteri biotik yang bergerak berevolusi. Namun, Al Qur'an tidak sendirian dalam mengatakan tentang konsep abiogenesis. Jauh sebelum ayat pertama Al Qur'an diturunkan, konsep evolusi telah digagas oleh herakleitus yang berusaha mengatakan bahwa hakikat realitas adalah "menjadi" (gerak). Pandangannya mensiratkan akan gerak maju sebuah realitas, terutama makhluk, dari yang sederhana menjadi makhluk makhluk yang lebih kompleks. Ia tidak mengatakan secara langsung tentang evolusi, namun idenya mensiratkan dan menginspirasikan akan hal tersebut. Selain itu ada pula Demokritus, yang berargumen, "bahwa setiap materi tersusun dari atom atom yang tidak dapat dibagi lagi. Atom, layaknya permainan lego dimana sekumpulan balok dapat membentuk wujud wujud lain yang lebih kompleks. Satu balok sangat berarti bagi balok lainnya. Begitulah seterusnya". Jadi, setiap materi baik yang hidup atau pun yang mati tersusun dari atom atom yang tidak dapat dibagi lagi. Sebenarnya, yang dimaksud oleh Demokritus bukanlah atom, sebab atom pun masih dapat dibagi lagi. Yang sebenarnya ia maksud adalah proton, elektron, dan neutron, sebab mereka bertiga adalah partilel terkecil yang tak dapat dibagi lagi. Pandangan Demokritus ini memperlihatkan ketajaman nalar yang luar biasa, melihat belum ditemukannya alat alat untuk mengamati makhluk makhluk mikroskopik namun hanya dengan bantuan intelek ia mampu memastikan bahwa materi hidup maupun mati tersusun dari partikel partikel yang tak dapat dibagi lagi. Dari sini dapat dipahami, bahwa wujud kompleks dari sebuah makhluk tersusun dan terkumpul dari partikel pertikel terkecil yang tidak dapat dibagi lagi, dan terus bergerak maju dalam evolusinya hingga mendapatkan wujud dan bentuk yang lebih unggul dari bentuk bentuk sebelumnya, maka lahirlah zaman jurasik, zaman kapak, zaman logam, hingga zaman modern seperti sekarang ini.

Creatio Ex Nihilo

Pada hakikatnya, alam semesta yang berisikan materi tidaklah bersifat qadim. Karena hakikat materi yang menjadi isi dari alam semesta adalah dapat tercipta dan dapat pula menjadi tiada, atau mendeterminasinya menjadi wujud lain. Seperti yang kita ketahui, bahwa segala yang ada pasti ada yang menyebabkannya ada. Sebagai contoh, kita dapat mengamati sebuah pohon yang memiliki kepadatan materi yang beragam. Mulanya ia berawal dari materi mati keempat elemen yang terus berevolusi hingga mendapatkan bentuk yang penuh menjadi sebuah pohon. Teori ini disebut dengan nama abiogenesis, teori yang mengatakan bahwa kehidupan dapat tercipta secara spontan dari keempat elemen dasar atau keempat benda benda mati. Baik, kita sudah mendapatkan titik awal dari sebuah materi yang kita amati, yakni sebuah pohon. Lalu, jika pohon dibakar sepenuhnya maka ia akan berubah menjadi hangus lalu menjadi abu, dari ada menjadi tiada, atau dari ada komplels menjadi ada primordial kembali, atau dapat disamakan dengan ketiadaan. Inilah yang menjadikan alam semesta tidak selalu ada, dapat hancur, hilang, atau lenyap sewaktu waktu. Sesuatu yang tidak selalu ada mustahil disebut Tuhan. Makhluk hidup jelas dapat berawal dan hidup spontan dari benda benda mati, lalu siapakah yang mengawali dan menciptakan benda benda mati tersebut? Ada dengan sendirinya sama saja dengan mengatakan bahwa materi dan alam semesta bersifat qadim, dan kita sudah mengetahui bahwa itu adalah mustahil. Jika kita mengatakan bahwa alam semsesta dan materi yang mengisinya ada secara kebetulan, maka konsep ini benar benar keluar dari rasio yang ada, yang menyebabkannya tidak masuk akal. Coba anda gambarkan dalam media dan alat alat anda tentang kekosongan sebuah ruang. Perhatikanlah, pada awalnya hanya ada ruang kosong tanpa ada atau diisi oleh apapun. Lalu bagaimana kebetulan sekonyong konyong menghadirkan meteri dalam ruang kosong tersebut yang melahirkan dan berevolusi menjadi materi materi lain yang mengisi ruang tersebut? Tak masuk akal bukan? Lalu, siapa yang menciptakan alam semesta beserta segala macam materi yang mengisinya? Karena alam semesta yang berisikan materi materi dapat tercipta dan dapat pula menjadi tiada, dapat disebabkan dan menyebabkan, ini mengindikasikan adanya sesuatu yang meng-ada-kan materi dan mengawali ke-ada-an yang lain. Dan itulah yang kita definisikan sebagai Tuhan, sang arsitek agung.