Hans zimer

Free Music Sites
Free Music Online

free music at soundcloud

Senin, 04 Mei 2026

Ketunggalan Khalq

Tuhan bersifat tunggal, dikarenakan jika tuhan bersifat jamak meskipun kedua-Nya, ketiga-Nya, atau keberapapun, mereka takkan menjadi ilahiah  walau dalam kemajemukan-Nya mereka sama dan unggul. Ini dikarenakan, jika Tuhan berbilang maka eksistensi-Nya dapat terwakili oleh Tuhan yang lain. Namun jika Ia hanya berjumlah satu maka sudah tak ada lagi yang dapat mewakili-Nya. Kita andaikan Tuhan berjumlah lima dan sama-sama memiliki keunggulan yang sama. Jika salah satu dari kelima Tuhan tersebut absen dan tak hadir, meski itu tidak mungkin dikarenakan Ia selalu ada, atau mungkin malah keberbilangan membuka kemungkinan lain, maka kealfaan-Nya dapat terwakili oleh Tuhan yang lain. Dan kita telah memiliki Tuhan yang berjumlah empat jika salah satunya memilih untuk tak hadir. Selanjutnya kita andaikan lagi pada Tuhan yang berjumlah empat yang mana salah satu-Nya mengambil keputusan kembali untuk alfa dalam realitas sehingga kita hanya memiliki tiga, selanjutnya dua, hingga sampai pada yang satu. Jika Tuhan yang satu ini memilih untuk ikut alfa dalam realitas pula, maka ketidak hadiran-Nya sudah tak dapat lagi untuk diwakili dan pengelolaan makhluk akan lenyap dan realitas akan kehilangan pengelolaan dan keseimbangannya. Jika benar bahwa Tuhan bersifat jamak, tentunya mereka akan saling membantu dan menerima bantuan dari sesama-Nya dalam pengelolaan makhluk-Nya. Pertanyaannya, apakah anda mau menyembah Tuhan yang dibantu bahkan oleh sesama-Nya?
Tuhan tidak memerlukan wakil dalam menjalankan kepemimpinan dan kerajaan-Nya, dikarenakan Ia selalu ada, yang menjadikan Ia satu-satu-Nya yang diutamakan oleh para ciptaan-Nya. Namun perlu diketahui pula bahwa tak ada yang mustahil bagi-Nya, termasuk lenyap dalam realitas tanpa bukti dan jejak sekalipun. Penulis berusaha mengabarkan bahwa tak ada yang mustahil bagi-Nya yang selanjutnya mungkin akan memandu para pembaca menuju kajian dangkal yang tak perlu dianggap serius. Namun terdapat pertanyaan musykil yang menarik untuk penulis ulas sedalam mungkin secara substasial, seperti; "mengapa khalq hanya berbilang satu dalam penalaran katafatik? Mengapa Ia tidak berjumlah dengan keunggulan yang sama, sama-sama sanggup dan sama-sama mampu, sama-sama qadim dan sama-sama bersifat azali, sama-sama selalu ada dan tak rapuh? Apa yang menjadikan khalq bersifat tunggal?". Khalq dapat dikatakan tidaklah membutuhkan bilangan meski keberbilangan khalq memungkinkan ada-Nya secara visual karena hadirnya konsep ini, dan tak ada yang mustahil bagi-Nya untuk mengada dalam keterbagian-Nya. Namun jika kita mengatakan "apa pun mungkin bagi-Nya", maka dengan media apa yang memungkinkan makhluk mengetahui dan memastikan ke-Ia-an-Nya? Nalar tentu akan menemui kekurang universalan logika seperti penulis saat ini jika berusaha mengabstraksi wujud yang lebih dari satu. Lalu jika makhluk menggunakan hati, tentu hati bukanlah media yang tepat untuk memastikan keberbilangan Al khalq. Sebab hati tak memiliki kapasitas kognisi untuk berfikir dan menetapkan secara rasional. Sedangkan panca indra ibarat tangan lumpuh yang tak memiliki daya untuk digunakan. Secara implisit, tulisan ini membongkar kekurang memadainya sistem katafatik melalui cara berfikirnya yang kering akan makna dan penjelasan. "Ia Tuhan, Ia dapat melakukan apa saja." Dengan keterangan seperti ini, apa lagi yang akan kita bicarakan tentang-Nya? Bisa jadi, keterangan seperti ini hanya upaya makhluk yang malas atau gagal menalar Tuhan. Padahal jika audiens mau membuka mata akan kompleksitasnya fenomenologi ketuhanan, ia kaya akan penjelasan rasional dan berusaha menembus batas-batas nalar sekaligus membuka tabir-tabir yang melingkupi seorang hamba akan pencipta-Nya, sekalipun dalam beberapa hal itu tidak mungkin, namun memiliki nilai progresif untuk diperhitungkan. Lalu apakah selanjutnya makhluk diharuskan untuk maju dan masuk ke ranah negative dalam menalar khalq? Ya! Selama itu membawa makhluk menuju kemajuan untuk kesadaran berketuhanan, lantas apa yang menghalangi pengkaji untuk tidak dan menolak mengambil pilihan ini?

Kamis, 12 Maret 2026

Komentar Untuk Aristoteles Dan Herakleitus

Aristoteles
Dalam filsafat Yunani klasik kita mengenal Aristoteles beserta gagasannya yang mengatakan "sesuatu dapat bergerak dikarenakan ada yang menggerakkannya. Dan yang menggerakkannya pun digerakkan oleh penggerak yang lain. Begitulah seterusnya pergerakkan bergerak hingga mencapai pada penggerak yang tidak bergerak dan tidak digerakkan oleh apapun. Itulah Nous." Dalam benak Aristoteles, "Nous haruslah tidak bergerak yang menyebabkan-Nya tidak bertambah atau berkurang, dan pula bahwa Nous tidaklah terikat oleh waktu yang berusaha mengukur-Nya seperti sejak kapan? Sedang apa? Dan sampai di mana?" Konsep ini sempat diadopsi oleh Abu Abbas Al Aqqad dalam karyanya yang berjudul "Allah", yang mana di Indonesia karya ini berjudul "Tuhan Di Segala Zaman". Penulis menemukan dalam sub bab awalnya bahwa Aqqad berargumen "Tuhan dapat merubah tetapi tidak dapat berubah". " Tidak dapat" Dalam konsep ini bukanlah sifat wajib bagi Nous. Meskipun ada penjelasan lain bahwa Ia memang "tidak dapat". Konsep ini pula merupakan kalimat lain dari kalimat Aristoteles namun bermakna sama. Penulis komentar ini menemukan bahwa konsep ini perlu dikoreksi, karena nalar yang menjadi alat mereka untuk mengabstraksi Nous berkontradiksi kontras dari penjelasan wahyu akan pengelolaan makhluk oleh khalq-Nya di alam dunia mau pun akhirat. Akan lebih masuk akal dan lebih koheren jika logikanya berbunyi seperti ini: "Nous dapat merubah dan dapat berubah menjadi merubah, dikarenakan Nous mampu, baik mengentifikasikan-Nya maupun mengabsolutkan-Nya."

Herakleitus
Kita mengenal Herakleitus sebagai filsuf era klasik ketika filsafat masih dikaji bukan hanya untuk menemukan pelajaran, melainkan pula untuk mencapai kebijaksanaan tertinggi dan meniru Nous paling tidak untuk sekedar berfikir. Tujuan Herakleitus berfikir adalah untuk mencapai kebijaksanaan, bukan untuk melebih-lebihkan terlebih melenggang pongah karena bangga menjadi yang pertama dan mengelitkan atau mengeklusifkan apa yang sebenarnya sederhana. Dia benar jika sesuatu tidak akan sama untuk kedua kalinya. Namun bukan berarti pandangan ini menjadikan individu atau masyarakat berlomba-lomba untuk mendapatkan atau menjadi yang pertama. Herakleitus memiliki otak, sedangkan Tuhan memiliki takdir. Jika Herakleitus ditakdirkan untuk menjadi yang ke dua, ke tiga, atau berapa pun, apakah ketidak menjadian yang pertama akan mengakhiri segalanya? Ingat, Bumi akan tetap bulat dengan anda menjadi yang pertama atau yang terakhir.