Kita sudah sepakat dan tak perlu mempermasalahkan lagi Tuhan ada atau tidak. Meskipun ada sistem berfikir legal yang mengatakan bahwa Tuhan itu tidak ada. Jika Tuhan ada, agama pasti benar, dan surga nyata adanya dan pada selanjutnya, menjadi bagian dari kenyataan yang belum dapat dirasakan namun seperti pertanyaan sederhana bagi balita kita, 1+1 yang jawabannya dengan sedikit rumit namun pasti adalah 2.
Tak perlu mendapatkan gelar profesor untuk mengetahui bahwa agama adalah tambang kearifan partikular maupun universal yang dimiliki hidup. Namun ada sisi lain dari agama yang selalu dianggap noda oleh oposisi. Muhammad mengajarkan jihad kepada umatnya, Nasrani mengajarkan ziarah, pagan dan native religi mengajarkan pengorbanan manusia, Hindu mengajarkan doktrin esoteriknya yang biasanya sudah tidak lumrah lagi di zaman modern secara implisit, Budha dan ritual pemakamannya. Konflik dan berbagai macam kengerian begitu hadir dalam benak modern yang-rapuh, dan karena itu pula sebagian dari para yang-pernah-agamis lebih memilih akalnya dari pada teks dan hikmah yang tak ada lagi atau sudah menjadi pihak eksternal dalam hidup dan dirinya. Bukan agama yang salah, melainkan pemahaman makhluklah yang belum mencapai gradasi yang lebih baik dari hari ini, hari di mana subjek yang mengkaji merasa agamanya salah dan tidak benar. Nasrani merasa salah dengan Trinitas? Di Al Qur'an ada penjelasannya. Hindu dan Brahman? Di Al Qur'an ada deskripsinya. Yahudi dan Ia-Nya yang pencemburu? Di Al Qur'an ada sejarahnya. Budha dan makna kosongnya, lalu pagan, maupun native religi? Lagi-lagi, Al Qur'an lagi yang kembali bicara. Muhammad yang merupakan Nabi terakhir seolah membawa induk dari semua agama yang ada dalam realitas. Pola terbalik jika dibandingkan dengan sejarah ajaran para Nabi dan sejarah agama-agama dunia. Meski pola ini difahami dengan metode batiniah. Dalam pola ini seakan Tuhan ingin para pengkaji dan ahlul kitab untuk melakukan kilas balik dengan sample yang telah tersedia dalam realitas hingga saat ini. Ah ya, dalam beberapa literatur pula mengatakan bahwa wilayah Yunani modern merupakan tempat lahirnya Nabi Idris. Jika pembaca menangkap maksud penulis, filsuf mana yang dijuluki Idris oleh para Peripatetik? Pembahasan selanjutnya dilebarkan dikarenakan penulis mendapat siratan pengetahuan yang perlu dicatat dan bermurah hati untuk membagikannya. Pandangan akan asal Nabi Idris yang lahir di Yunani akan berimplikasi ke arah Adam dan Hawa yang menjadi awal dari manusia modern sekaligus akhir dari kekurang berfungsian akal manusia purba untuk berfikir, karena ia masih berupa monyet atau gorila atau sejenisnya yang belum layak disebut manusia. Mengingat selisih zaman antara Idris dan Adam dapat dipastikan secara manusiawi tidak sampai seribu atau dua ribu tahun, yang menandakan evolusi sebagian primata dapat saja sudah berakhir di era Adam yang selanjutnya mewarisi akalnya kepada Idris. Ini menandakan tidak sampai seribu atau dua ribu tahun ke belakang, sebelum era Idris, manusia sudah dapat berfikir logis dan rasional. Karena evolusi membutuhkan waktu yang lebih dari itu untuk bermutasi. Jadi, jika ditarik ke belakang hingga dua ribu tahun, perubahan manusia dan zaman itu tidak sampai pada perubahan fisik, melainkan cara berfikir, metode hidup, maupun teknologi yang masih sederhana namun telah selesai fase primordialnya. Jika benar demikian, maka fosil dan Adam, fakta sains historis dan agama dapat berpadu menjadi kesatuan yang memukau, dimana primata berevolusi hingga berpuncak pada Adam yang menjadi akhir dari tujuan evolusinya, yakni manusia, yang di anugerahi hati, akal, dan kesadaran yang menjadikannya berbeda dengan monyet.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar