Hans zimer

Free Music Sites
Free Music Online

free music at soundcloud

Kamis, 12 Maret 2026

Komentar Untuk Aristoteles Dan Herakleitus

Aristoteles
Dalam filsafat Yunani klasik kita mengenal Aristoteles beserta gagasannya yang mengatakan "sesuatu dapat bergerak dikarenakan ada yang menggerakkannya. Dan yang menggerakkannya pun digerakkan oleh penggerak yang lain. Begitulah seterusnya pergerakkan bergerak hingga mencapai pada penggerak yang tidak bergerak dan tidak digerakkan oleh apapun. Itulah Nous." Dalam benak Aristoteles, "Nous haruslah tidak bergerak yang menyebabkan-Nya tidak bertambah atau berkurang, dan pula bahwa Nous tidaklah terikat oleh waktu yang berusaha mengukur-Nya seperti sejak kapan? Sedang apa? Dan sampai di mana?" Konsep ini sempat diadopsi oleh Abu Abbas Al Aqqad dalam karyanya yang berjudul "Allah", yang mana di Indonesia karya ini berjudul "Tuhan Di Segala Zaman". Penulis menemukan dalam sub bab awalnya bahwa Aqqad berargumen "Tuhan dapat merubah tetapi tidak dapat berubah". " Tidak dapat" Dalam konsep ini bukanlah sifat wajib bagi Nous. Meskipun ada penjelasan lain bahwa Ia memang "tidak dapat". Konsep ini pula merupakan kalimat lain dari kalimat Aristoteles namun bermakna sama. Penulis komentar ini menemukan bahwa konsep ini perlu dikoreksi, karena nalar yang menjadi alat mereka untuk mengabstraksi Nous berkontradiksi kontras dari penjelasan wahyu akan pengelolaan makhluk oleh khalq-Nya di alam dunia mau pun akhirat. Akan lebih masuk akal dan lebih koheren jika logikanya berbunyi seperti ini: "Nous dapat merubah dan dapat berubah menjadi merubah, dikarenakan Nous mampu, baik mengentifikasikan-Nya maupun mengabsolutkan-Nya."

Herakleitus
Kita mengenal Herakleitus sebagai filsuf era klasik ketika filsafat masih dikaji bukan hanya untuk menemukan pelajaran, melainkan pula untuk mencapai kebijaksanaan tertinggi dan meniru Nous paling tidak untuk sekedar berfikir. Tujuan Herakleitus berfikir adalah untuk mencapai kebijaksanaan, bukan untuk melebih-lebihkan terlebih melenggang pongah karena bangga menjadi yang pertama dan mengelitkan atau mengeklusifkan apa yang sebenarnya sederhana. Dia benar jika sesuatu tidak akan sama untuk kedua kalinya. Namun bukan berarti pandangan ini menjadikan individu atau masyarakat berlomba-lomba untuk mendapatkan atau menjadi yang pertama. Herakleitus memiliki otak, sedangkan Tuhan memiliki takdir. Jika Herakleitus ditakdirkan untuk menjadi yang ke dua, ke tiga, atau berapa pun, apakah ketidak menjadian yang pertama akan mengakhiri segalanya? Ingat, Bumi akan tetap bulat dengan anda menjadi yang pertama atau yang terakhir.